Musuh-musuh dan Tantangan Dakwah di Masa Depan

Oleh Daud Rasyid*

Antara da'wah' dan tantangan sebutan lain dari musuh, hanya berbeda dalam soal bobot sepertinya sudah senyawa. Boleh dibilang tidak pernah sebuah da'wah berjalan mulus tanpa tantangan. Bahkan benar tidaknya jalan sebuah da'wah dapat diukur dari berat ringannya tanberbagai sandungan, mulai dari kerikil kecil, hingga tembok beton. Andaikan da'wah Rasulullah saw dahulu hanya sekadar mengajarkan pembersihan jiwa kepada kaum Quraisy, niscaya tak akan ditentang oleh Abu Lahab, Abu Jahal dan sekutu-sekutunya. Namun karena da'wah yang dibawa Nabi saw itu mengandung makna perombakan tatanan, penghancuran ideologi dan membangun sistem baru, sehingga orang kafir Quraisy mati-matian menghadang da'wah itu. Ini tidak hanya berlaku untuk seorang Nabi Muhammad saw saja, tetapi tetap berlaku bagi setiap orang yang mengikuti jejaknya.

Pada prinsipnya, tiada zaman dan tempat yang sepi dari musuh-musuh da'wah, dulu maupun sekarang. Hal ini juga dibenarkan oleh ayat al-Qur'an: "Dan begitulah, Kami jadikan di setiap negeri itu penjahat-penjahat kelas beratnya."

Adapun musuh-musuh dan tantangan da'wah adalah sebagai berikut;

Syaitan

Syaitan adalah musuh bebuyutan da'wah dan da'i yang paling terdepan. Syaitan adalah musuh legendaris ummat manusia sejak zaman Adam as Syaitan telah bersumpah kepada Allah swt akan menyesatkan semua manusia, kecuali hamba Allah yang beriman. Namun orang beriman sekalipun tak pernah luput dari sasaran syaitan. Pengecualian itu hanya karena disebabkan ketidakmampuan syaitan menaklukkan kelompok tersebut. Dalam konteks da'wah, syaitan tampil sebagai penggoda atas da'i untuk menggagalkan da'wahnya. Berbagai cara yang dilakukan oleh syaitan, di antaranya: melemahkan dan mementahkan semangat sang da'i agar ia tidak bersungguh-sungguh dalam misinya. Kadangkala terlintas dalam pikiran da'i, da'wah ini berjalan sudah sekian lama, namun tidak ada perubahan berarti dalam kehidupan masyarakat. Sehingga yang muncul berikutnya adalah keputusasaan, pessimisme, dan futur. Bentuk lain penggagalan da'wah sampai pada mengotori keikhlasan niat para da'i.

Ketika da'wah diawali dengan motivasi yang tidak lillahi ta'ala, maka ujung dari da'wah itu sudah dapat diperhitungkan (kegagalan). Bahkan ketika sebuah da'wah mengalami kesuksesan, syaitan tidak tinggal diam. Ia mengatakan kepada si da'i, keberhasilan ini semua adalah karena kecerdasanmu, kepiawaianmu dan segala kehebatan sang da'i disebutnya satu persatu. Syaitan juga sering menggunakan siasat pecah belah. Sebuah organisasi da'wah sering mengalami perpecahan, karena perbedaan pandangan antara sesama aktifisnya. Dalam kasus seperti ini, syaitan menghasut mereka, dan menanamkan kecurigaan antara satu dengan lainnya, sehingga rasa persaudaraan dan keakraban para pendukung da'wah mulai luntur dan pada saatnya terputus. Untuk mengantisipasi hal-hal seperti inilah, da'i yang berpengalaman, menanamkan kepada mad'uw-nya (obyek da'wah) semangat mahabbah (cinta sesama), sikap keterbukaan/transparansi, dan rasa percaya pada sesama saudara. Ini semua merupakan pilar-pilar penting untuk mengkandaskan usaha syaitan dalam melakukan pecahbelah.

Penguasa yang zalim

Musuh da'wah berikutnya adalah penguasa. Setiap penguasa mempunyai paradigma berpikir sendiri, yaitu mempertahankan kursi kekuasaan selama mungkin. Siapapun yang ingin mengusik kekuasaan si penguasa harus dimusnahkan. Jika ada yang mengatakan, bahwa kekuasaan itu bersaudara dengan otoriterianisme, itu benar adanya. Penguasa cenderung berpandangan bahwa yang berbeda pendapat dengannya adalah musuh. Dalam konteks da'wah, Islam adalah tata nilai yang semua orang termasuk penguasa harus tunduk padanya. Ketika penguasa dengan segala faktor kemanusiaannya berseberangan dengan tuntutan da'wah, maka yang terjadi adalah pemberangusan da'wah. Ini sudah merupakan sunnatullah. Fir'aun pada awalnya memelihara Musa sebelum menjadi Nabi di istananya. Tapi ketika da'wah harus disampaikan kepada Fir'aun yang mengaku dirinya Tuhan, maka konflik antara Musa dan Fir'aun tidak dapat dihindari. Di abad duapuluh, naiknya Jamal Abdun-Nashir ke kursi kepresidenan Mesir adalah karena perjuangan Ikhwanul Muslimin. Bahkan Jamal mengaku pernah berbai'at kepada Hasan Al-Banna di masa hidupnya. Tetapi ketika sudah menduduki kursinya, Jamal membantai sejumlah tokoh-tokoh organisasi itu. Tuduhannya adalah tuduhan yang biasa dilansir para penguasa 'berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah.'

Tampaknya, konflik antara aktifis da'wah dengan penguasa kecuali penguasa yang mengikuti manhaj Nabi saw merupakan konflik yang tak berhenti. Bahkan seandainyapun seorang aktifis da'wah sendiri naik menjadi penguasa, keharmonisan itu belum dapat dijamin. Karena kekuasaan merupakan nikmat yang membuat orang banyak terlena. Kesalehan yang teruji adalah kesalehan ketika berkuasa. Orang yang mampu konsisten pada saat berkuasa, barangkali dapat dijadikan ukuran bagi keteguhan pendirian seseorang.

Kekuatan Kafir

Kekuatan kafir adalah semua kekuatan yang berdiri di atas fondasi kekafiran, menolak kepemimpinan yang didasarkan pada sistem Ilahi dan manhaj Nabawi. Dahulu orang memahami kekafiran itu sebagai Yahudi dan Nasrani. Dan ini memang benar, hingga sekarang. Tetapi yang perlu diperhatikan baju-baju kekafiran itu tidak hanya Yahudi dan Nasrani secara formal. Mereka sering tampil dalam bentuk faham-faham baru, ajaran-ajaran baru sehingga membuat banyak ummat Islam menjadi terkecoh.

Sejumlah ayat dan hadits Nabi menjelaskan permusuhan Yahudi dan Nashara kepada da'wah Islam. Permusuhan mereka itu tak bakal berhenti walaupun ribuan MoU ditandatangani. Kesepakatan di atas kertas itu tak lebih dari sekadar basa-basi mereka di depan ummat lain. Agar mereka terkesan sebagai ummat yang cinta damai. Bukti mutakhir. Sebagaimana kesepakatan-kesepakatan di bumi Maluku antara pihak Muslim dengan Kristen. Berkali-kali mereka menyerukan damai, dan bertemu di meja perundingan, namun orang-orang mereka di lapangan tetap membantai dan membunuh ummat Islam. Keganasan Israel di bumi Palestina tak kunjung istirahat, walaupun perundingan Arafat sudah berlangsung ratusan kali dengan pemimpin-pemimpin Israel.

Kebencian Yahudi kepada Nabi Muhammad saw mereka tunjukkan hingga pada akhir-akhir kehidupan Nabi. Bukankah mereka merancang pembunuhan atas Nabi setelah berkali-kali gagal dengan menyuruh seorang wanita musyrik menyuguhkan kambing beracun ke hidangan Nabi saw?

Dalam konteks Indonesia akhir-akhir ini, kita merasa yakin bahkan haqqul yaqin bahwa keadaan yang kacau balau ini pasti di baliknya permainan kekuatan Yahudi Internasional yang bekerjasama dengan kekuatan Salibisme internasional. Logikanya sederhana saja, kekuatan kafir membayangkan bahwa Indonesia ini berpotensi menjadi negara Islam terbesar di dunia. Baik dari sisi kekayaan alam, letak geografis, populasi penduduk, dan semangat (ghirah) Islam yang mulai muncul. Jika ini dibiarkan, bisa-bisa akan menenggelamkan dan menelan dunia Barat. Oleh karenanya arus ini harus dipotong. Kekuatan yang dimilikinya harus ditumpulkan. Cara yang efektif adalah dengan mengadu-domba antar sesama kekuatan yang ada di dalam negeri. Dan pada tataran internasional, posisi Indonesia dipojokkan sedemikian rupa, hingga dipandang sebagai negara yang tidak dapat dipertahankan dan harus dilakukan intervensi (dalam bahasa mereka 'penyelamatan').

Bangsa yang selama puluhan tahun hidup dalam keadaan tertindas dan teraniaya, memang dengan mudah dapat dibangkitkan semangat perlawanannya. Kelicikan mereka adalah dengan menguasai publik opini. Dengan menguasai media massa mereka dengan mudah memainkan publik opini untuk kepentingan mereka. Oleh karenanya sekarang, semua kantong-kantong media massa berada di tangan kaum kafir itu. Sementara kaum intelektual di negeri ini berlomba-lomba ingin menjadi orang populer. Cara praktis untuk menjadi populer adalah dengan sikap 'tampil beda'. Kaum cendekiawan yang seharusnya mencari jalan keluar yang hakiki dan hikmah (bijaksana), justru ikut memprovokasi masyarakat untuk semakin panas. Adu-domba dan provokasi, adalah pekerjaan utama para musuh-musuh dakwah. Termasuk di dalamnya memecah belah. Perbedaan yang sesungguhnya sederhana dan mudah diselesaikan, dibesar-besarkan sehingga menjadi masalah yang tak dapat dipecahkan kecuali dengan pembubaran negeri ini. Jika negeri ini bubar, satu-satunya kekuatan yang diuntungkan adalah kekuatan kafir, dan yang paling menderita adalah ummat Islam.

Dahulu mereka memusuhi Habibie. Padahal dengan segala kekurangannya, Habibie adalah orang yang mempunyai visi bagi perbaikan nasib ummat Islam. Setidak-tidaknya mempunyai niat baik untuk ummat Islam. Tidak sedikit kader dari ummat Islam yang menjadi 'doktor' dalam bidang iptek, karena saham Habibie. Kita sering terjebak dalam skenario musuh kita. Kenapa? Karena ketidakcerdasan kita dan maaf kebodohan kita sendiri.

Neo-Komunisme

Musuh dakwah yang lain adalah Komunisme. Karena komunisme mengajarkan pengingkaran kepada Allah swt dan kepada segala yang ghaib. Bagi mereka surga dan neraka hanyalah khayal. Ajaran tentang sabar, tawakkal kepada Allah, taqdir dan sejenisnya hanyalah bius untuk menenangkan orang-orang miskin dan kaum tertindas. Negeri ini punya sejarah hitam dengan komunis. Seburuk-buruknya Suharto, dia berhasil menumpas gerakan PKI pada tahun 1965. Andaikata ketika itu, komunis berhasil membangun negeri ini, maka ulama-ulama dan pengasuh pondok pesantren mungkin hanya tinggal nama. Sebab orangnya akan ada di tiang gantungan atau di bawah kolong jembatan. Nama-nama mereka sudah didaftar secara detail oleh PKI di seluruh Nusantara yang hanya tinggal menunggu tanggal harinya saja. Tapi makar mereka dipatahkan oleh makar Allah swt. Dalam era keterbukaan ini, komunisme mulai menampakkan ujudnya. Sudah tentu tidak menyebut-nyebut nama PKI yang menimbulkan trauma besar bagi rakyat. Tetapi dia muncul dengan berbagai baju dan bungkus. Mereka biasa menumpang bis yang sedang berjalan. Di mana ada isu perlawanan dari pihak lemah atas pihak yang kuat, maka di sana akan ditemukan komunis.

Oleh karenanya, dalam isu-isu buruh, mereka pasti ada. Mereka lihai betul mencari simpatik orang lain, dengan memberi kesan sebagai pelindung dan pejuang kaum buruh. Mereka paling sering mengatasnamakan 'rakyat' seolah-olah sebagai pihak yang memperjuangkan keadilan, tetapi sesungguhnya penginjak-injak keadilan.

Pola-pola kerja mereka rata-rata mirip dan mudah dikenali, seperti melakukan provokasi agar terjadi huru-hara, chaos dan ketidak-stabilan. Mereka menangguk dalam suasana itu. Yang jadi isu mereka kemana-mana adalah ketidakadilan, kediktatoran, anti kemapanan dan perlindungan pada kaum lemah. Semua isu-isu itu tak lebih dari sekadar kamuflase belaka. Ketika mereka tampil pada kekuasaan, yang terjadi adalah kesengsaraan. Mari kita cari negeri komunis yang memberi keadilan, kebahagiaan dan kesenangan kepada rakyatnya. Uni Sovyetkah (yang sudah terkubur)? Yugoslaviakah? Vietnam Utarakah? Kubakah?

Komunisme tidak hanya menyusup ke Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), seperti serikat buruh, tani, nelayan, advokasi hukum dan sejenisnya. Tetapi juga masuk ke kantong-kantong Islam. Justru ini yang paling berbahaya. Mereka masuk melalui isu-isu yang sebagian ada miripnya dengan ajaran Islam. Misalnya penghargaan Islam pada tenaga buruh, perlawanan kepada thaghut, keadilan sosial dalam Islam, dan sebagainya. Tujuannya tak lebih hanya menjadikan isu-isu sebagai pintu masuk belaka. Tetapi ajaran selanjutnya yang mereka tanamkan adalah Marxisme-Komunis. Untuk upaya ini, mereka bahkan seenaknya dan tidak segan-segan menyebut tokoh-tokoh Islam sebagai kelompok kiri. Umpamanya, mereka mencatut Umar ibn al-Khattab sebagai tokoh kiri dalam Islam. Di zaman modern ini, mereka mencatut nama Sayyid Qutub sebagai tokoh beraliran kiri dalam Islam.

Dalam konteks Islam, tokoh yang mereka idolakan sekarang ini adalah Hasan Hanafi, seorang pejuang Marxis dari Mesir yang oleh 'Jabhah Ulama Al-Azhar' sebuah lembaga independen yang menghimpun ulama-ulama Al-Azhar Mesir, menghukumnya murtad. Hasan Hanafi memang tokoh yang cukup dikenal di kalangan kaum Marxis, kendatipun tidak begitu dikenal di kalangan intelektual Mesir sendiri. Dia menulis beberapa buku seperti minal `Aqidah ila al-tsaurah, 'Ilm al-Istighrab' dll. dan cenderung berjilid-jilid. Intinya dari bukunya adalah menjual pikiran-pikiran Marxisme di kalangan ummat Islam. Oleh Prof Ali Jum`ah, seorang pakar dari Al-Azhar, dikatakan, bahwa Prof Thoriq al-Bisyri, kolega Hasan Hanafi pernah menemukan buku karya Hanafi dalam bahasa Perancis. Di halaman terakhir buku itu, dia katakan: "Tidak ada Tuhan". Prof Muhammad Imarah, pemikir Mesir zaman ini, yang pernah menjadi sahabat dekat Hasan Hanafi ketika dia masih menjadi pengagum Marxisme banyak membeberkan pemikiran Hanafi. Dalam beberapa tulisannya Prof Muhammad Imarah pernah melakukan counter atasnya.

Buku-buku karya Hasan Hanafi yang Marxis ini belakangan sangat digandrungi oleh kalangan muda Islam, khususnya anak-anak IAIN. Karya-karya Hanafi itu, mereka terjemahkan ke bahasa Indonesia. Dan kalangan santri mendiskusikannya dalam bahasa aslinya. Mereka terkagum-kagum dengan pikiran Hanafi yang sesungguhnya adalah pikiran Karl Marx yang dikemas dalam bahasa Arab. Di Mesir sendiri, karya-karyanya itu tidak populer dan tidak laku di pasaran, sehingga ketika penulis ingin mengoleksinya, agak kesulitan karena buku-buku itu hanya dijual oleh Pustaka Madbuli, sudah penuh dengan debu dan kurang peminat. Yang meminatinya justru anak-anak Indonesia yang notabene tamatan pesantren. Abdurrahman Wahid, adalah salah seorang pengagum Hasan Hanafi, di samping Nurcholis Madjid. Seorang teman yang baru pulang dari Mesir menceritakan, ketika Abdurrahman ke Mesir dan dalam suatu forum di depan mahasiswa Mesir menyatakan, "Jika saya menjadi Presiden, maka yang akan saya terapkan adalah pikiran Hasan Hanafi." Ternyata, impiannya itu jadi kenyataan. Tahun lalu (2000) Hasan Hanafi diundang ke Indonesia dan berbicara di sebuah Forum Diskusi di IAIN Jakarta dan Semarang. Bahkan buku-bukunya konon ditetapkan menjadi literatur di IAIN Walisongo, Semarang.

Adapun Nurcholish, berkali-kali menyebut nama Hasan Hanafi ketikin dibaca karyanya, semakin memberontak hati orang-orang yang beriman kepada Allah swt. Tetapi hati orang-orang yang kosong dari iman semakin kagum dan menemukan sesuatu yang baru di dalamnya.

Yang menjadi tanda tanya, kenapa ummat Islam tidak belajar dari pengalaman masa lalu?

* Penulis adalah Staf pengajar IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta