Keluarga Mujahid untuk Ummat Terbaik

Membangun keluarga da'i, kekuatan utamanya do'a dan uswah orang tua

oleh Kurnia Irawati Istadi*

Di masa kecilnya, Imam Bukhari menderita penyakit buta mata, sehingga ia tak dapat menikmati kegembiraan seperti layaknya anak lain. Ibunya sangat sedih akan nasib anaknya tersebut, namun tak pernah lelah berharap kepada Allah Subhanaahu wa ta'ala agar bisa lulus dari ujian penyakit itu. Setiap malam sang Ibu rajin melaksanakan shalat tahajjud, dengan permohonan khusus tak henti-hentinya agar Allah menyembuhkan penyakit Bukhari kecil. Berkat kesabarannya berdoa dan keyakinannya yang kuat akan bantuan Allah, akhirnya Allah pun mengabulkan permohonannya dan memberikan kesembuhan sehingga Bukhari bisa melihat kembali. Kesembuhan yang kelak mengantarnya menjadi perawi hadits terpercaya.

Begitu pula dalam sejarah kehidupan ulama besar Imam Syafi'i, ia dibesarkan oleh ibunda yang sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari dosa. Ibunda Imam Syafi'i adalah seorang wanita yang sangat wara', yang sangat berhati-hati untuk tidak mendekati hal-hal syubhat sekalipun. Berkat kesucian dirinya yang sangat terjaga, Allah pun banyak mengabulkan doa dan harapan sang ibu. Salah satunya adalah do'anya yang tak pernah putus agar putranya menjadi ahli agama.

Para ulama dan imam besar, umumnya mampu menghafal al-Qur'an di usia sangat belia. Keberhasilan seperti ini tak akan mungkin tercapai tanpa peran orang tua yang serius mendidik mereka sedari dini. Seperti halnya Rasulullah Salallaahu 'alaihi wa salam yang kerap mengajak putrinya Fatimah di masa kecilnya untuk turut keluar menyertai beliau saat berda'wah. Maka si kecil Fatimah pun melihat dengan matanya sendiri dan bahkan turut merasakan bagaiman ayahnya dihina, dicaci-maki, bahkan dilempari kotoran binatang sekalipun. Karena telah dilibatkan dalam kegiatan da'wah semenjak kecil, maka jiwa mujahidah pun tumbuh dalam dirinya hingga dewasa.

Penanaman nilai-nilai hakiki tugas da'wah dalam keluarga, serta penumbuhan budaya da'wah dalam keluarga, tak mungkin akan terlaksana tanpa peran utama dari orang tua.

Keluarga, ujian pertama

Jika dikatakan bahwa menikah adalah separo dari agama, memang satu hal yang mudah dipahami. Mereka yang sudah berkeluarga akan mengerti bagaimana beratnya tantangan yang dihadapi seseorang dalam membina kehidupan berumah tangga itu. Begitu beratnya, hingga pahala bagi mereka yang telah berkeluarga dilipatkan dua kali oleh Allah Subhaanahu wa ta'ala dibanding mereka yang masih lajang.

Justru karena taraf kesulitannya yang tinggi, keluarga menjadi ujian yang pertama bagi seorang da'i. Di sanalah bengkel tempat menempa kekuatan mental, mematangkan kedewasaan dan mempelajari strategi da'wah hingga akhirnya mereka siap untuk membina masyarakat yang lebih luas di luar lingkup keluarganya.

Mereka yang telah berhasil membina keluarganya dengan baik memiliki kesempatan lebih besar untuk bisa sukses pula berjuang di tengah masyarakat. Tetapi jika membina keluarga saja tak mampu, bagaimana bisa membina lingkungan 'keluarga-keluarga' yang lebih luas?

Membangun budaya

Sesuatu dikatakan telah terbentuk sebagai budaya manakala seakan telah menyatu dengan diri dan lingkungannya. Budaya ini terbentuk melalui proses bertahun-tahun, perlahan tapi pasti sesuai dengan kondisi serta kebiasaan hidup masing-masing keluarga.

Selain menjadi visi, da'wah juga harus tumbuh dalam keluarga menjadi sebuah budaya. Hanya dengan adanya kekompakan antara visi dan budayalah maka setiap anggota keluarga bisa bahu-membahu dan saling memotivasi dalam menjalankan peran masing-masing di tengah masyarakat.

Sebagai keluarga mujahid, sudah barang tentu kehidupan keluarga mereka akan menjadi sorotan masyarakat, bahkan dijadikan panutan ummat. Karakteristik utama dari sebuah keluarga mujahid da'wah adalah berjalannya roda kehidupan sehari-hari sesuai ajaran al-Qur'an dan sunnah Rasul.

Keluarga seperti ini juga memiliki ciri yang kuat berupa kerelaan untuk berkorban. Sebagai pelayan, tentu saja seorang da'i harus memuliakan ummat dan melebihkan kepentingan mereka terhadap kepentingan diri sendiri. Kerelaan berkorban ini adalah salah satu prinsip utama yang harus ditanamkan dalam kehidupan keluarganya. Bagaimana membiasakan anak-anak untuk berkorban demi teman-temannya. Juga memberi contoh praktik pengorbanan keluarga untuk tetangga, untuk ummat serta untuk agama.

Keberanian untuk tampil berbeda, adalah karakter berikutnya. Bahwa yang bisa masuk surga sangatlah sedikit jika dibanding penghuni neraka, ini harus dipahamkan kepada anak agar mereka tak takut untuk berbeda dengan teman-temannya. Anak harus diyakinkan bahwa keluarga mereka tergolong salah satu dari sedikit sekali keluarga yang mampu menjadi umat terbaik. Itu sebabnya tak ada alasan untuk malu menegakkan kebenaran, walau sendirian.

Ketika mereka harus berjilbab sementara teman-teman di sekolah bebas menggerai rambutnya, atau saat teman-teman asyik membincangkan sinetron TV tanpa mereka tahu maksudnya karena tak diperbolehkan menonton sinetron dalam keluarga. Juga ketika anak harus menghabiskan waktu senggangnya di rumah untuk menghafal ayat demi ayat al-Qur'an, dengan membatasi keinginannya untuk bermain-main bersama teman sebayanya.

Karakter budaya da'wah yang berikutnya adalah kesiapan mental menghadapi tantangan. Kehidupan mujahid yang dituntut menghabiskan banyak waktunya untuk umat, tak jarang harus meninggalkan keluarga selama berminggu-minggu. Seperti Siti Hajar yang harus membesarkan Ismail tanpa didampingi suami, begitu pula keluarga mujahid pun kerap kali harus mengalami hal serupa.

Fitnah, ejekan serta caci maki juga merupakan bentuk lain tantangan yang kerap harus diterima. Keluarga mujahid harus lapang dada dan ikhlas menerima semua itu, bukannya justru terpengaruh, emosional atau bahkan membalas dendam.

Bila keempat karakter utama di atas mulai berkembang secara pasti dalam setiap keluarga, insya Allah, masa-masa penuh kebahagiaan sedang kita jelang, karena janji Allah tentang ummat terbaik rupanya sudah di depan mata. Amien.

* Penulis adalah Redaktur Jendela Keluarga Suara Hidayatullah