K . A . J . I . A . N   T . E . M . A . T . I . S

Membangun
Generasi Alternatif
(Bagian Ketiga)
Aam Amiruddin

"Hai orang-orang beriman, siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut kepada orang yang mu'min dan bersikap tegas kepada orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulan karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Maidah 5:54)

Pada MaPI edisi 02 dan 03 sudah dibicarakan beberapa ciri generasi alternatif (pilihan). Pertama, Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya. Kedua, bersikap lembut terhadap orang-orang yang beriman. Ketiga, bersikap tegas terhadap orang kafir. Keempat dan kelima akan dituntaskan pada edisi ini.

Berjihad di Jalan Allah

... mereka berjihad di jalan Allah ... (QS. Al-Maidah 5:54)

Imam Ar-Raghib Al Isfahani menyebutkan kata jihad berasal dari kata juhd atau jahd. Juhd bermakna mengerahkan tenaga, usaha atau kekuatan dan jahd secara bahasa bermakna mengerahkan segala usaha, tenaga, kemampuan dan kesungguhan untuk mewujudkan suatu cita-cita. Dalam Al Qur'an kata jihad disebut secara berulang sekitar tiga puluh kali.  Al Qur'an menyebut jihad dalam dua pengertian; khusus dan umum.

Pengertian Khusus
Jihad dalam arti khusus adalah perang melawan musuh di medan pertempuran, redaksi lain menyebutkan berperang secara fisik melawan orang-orang kafir yang mengganggu Islam. Jihad dalam arti khusus selalu dikaitkan dengan peperangan, pertempuran, atau ekspedisi militer. Ustadz Ibnul Qayyim menyebutkan dengan istilah jihad muthlaq.

Ketika Rasulullah saw. berda'wah di Mekkah -selama 13 tahun- tidak diizinkan jihad dalam arti khusus (perang). Walaupun beliau dan para sahabat mengalami berbagai intimidasi atau penindasan, Allah swt. tetap menyuruhnya bersabar. Barulah setelah setahun hijrah ke Madinah diizinkan berjihad dalam arti khusus, berdasarkan perintah-Nya dalam surat Al-Hajj ayat 39-40,

"Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka. Yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah" ... (QS. Al Hajj 22:39-40)

Ayat ini memberikan pengesahan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh-musuh Islam secara fisik.

Mencermati QS. Al Baqarah 2:190-193, An-Nisa 4:75, dan At-Taubah 9:13-15, kita bisa memformulasikan bahwa perang itu diperbolehkan (1) untuk mempertahankan diri, kehormatan, harta dan negara dari tindakan kesewenang-wenangan musuh (defensif). (2) untuk menegakan kebenaran dan keadilan (3) untuk membebaskan orang-orang tertindas.

Perang tidak dibenarkan untuk memaksakan ajaran Islam kepada orang lain sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al Baqarah 2:256 (tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat ... . Juga diharamkan berperang untuk tujuan perbudakan, penjajahan, perampasan harta dan kemerdekaan. Dalam peperangan, haram hukumnya membunuh orang-orang yang tidak terlibat, seperti wanita, anak-anak, dan orang-orang yang udzur.

Para ulama mengemukakan, jihad dalam arti khusus (perang) hukumnya fardhu kifayah artinya kewajiban yang bersifat kolektif, atau dengan kata lain kewajiban kepada semua orang yang dapat berperang, tetapi apabila sudah dilaksanakan sebagian umat Islam, kewajiban itu gugur bagi kaum muslimin lainnya. Allah swt. berfirman,

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan agama dan untuk memberikan peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (At-Taubah  9: 122)

Ayat ini menegaskan, tidak semua kaum muslimin harus pergi ke medan pertempuran, tetapi harus ada orang-orang yang mengerjakan tugas lain ; memperdalam ajaran agama, menggelindingkan roda perekonomian, mengajar, menjalankan roda pembangunan, dll. Namun semua ahli sepakat, jihad dalam arti khusus (perang) bisa berubah menjadi fardu 'ain (kewajiban per individu) apabila wilayah Islam diintervensi/diinvasi musuh yang menurut perkiraan bisa menghancurkan kedaulatan negara Islam.

Orang-orang yang gugur dalam jihad (pertempuran) membela agama Allah diberi gelar syuhada. Dalam riwayat Bukhari disebutkan, para syuhada itu tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dikafani, langsung dikuburkan dengan pakaian yang berlumuran darah. Nabi saw. menyatakan, para syuhada akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan luka dan tetesan darahnya sebagai saksi pada hari penghisaban nanti.

Al Qur'an menyatakan, para syuhada itu tetap hidup di sisi Allah swt. dan diberi rizki-Nya

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka." (QS. Ali-Imran 3:169-170).

Mudah-mudahan Allah swt. menganugerahkan kesyahidan pada kita. Amin. **

Jihad Pengertian Umum

--->
Pengertian Umum

Jihad dalam arti umum adalah jihad yang pengertiannya tidak hanya terbatas pada pertempuran, peperangan, dan ekspedisi militer, tetapi mencakup segala kegiatan dan usaha yang maksimal dalam da'wah, amal ma'ruf nahyi munkar demi li i'laa kalimatullahi hiyal 'ulya (tegaknya agama Allah di muka bumi).

Dalam konteks ini, jihad tidak dibatasi ruang dan waktu, artinya kapanpun dan dimanapun kita wajib melaksanakannya secara berkesinambungan, sesuai dengan kadar dan kemampuan masing-masing. Hartawan bisa berjihad dengan hartanya, Ilmuwan bisa berjihad dengan ilmunya, ibu rumah tangga berpeluang berjihad dengan mendidik anak-anaknya agar shaleh, dll.

Ustadz Ibnul Qayyim menyebutkan, jihad ditinjau dari segi pelaksanaannya terbagi pada tiga bagian; jihad muthlaq, jihad hujjah dan jihad 'amm. Jihad muthlaq adalah jihad dalam artu khusus seperti telah dijelaskan di muka yakni mengangkat senjata menghadapi gangguan orang-orang kafir.

Jihad hujjah adalah jihad menghadapi serangan orang-orang kafir dengan pendekatan intelektual, dengan mengemukakan argumentasi-argumentasi yang tak terbantahkan. Jihad seperti ini membutuhkan ilmu yang mendalam dan mumpuni, karenanya disebut juga dengan istilah jihad bil'ilmi wal bayyan (lihat QS. Al Mujadilah 58:11, Ali-Imran 3:7, dan An-Nisa 4:162). Ini merupakan lahan jihad yang pas untuk para ilmuwan atau peneliti.

JIhad 'amm adalah jihad dalam bentuk pengorbanan harta, jiwa, tenaga, waktu, kedudukan, kesempatan, dll. Dikatakan 'amm (umum) karena siapapun punya peluan masuk pada tataran jihad seperti ini. Seorang mahasiswa misalnya, ia bisa berjihad dikampus dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kerohanian yang bermanfaat bagi kawan-kawannya, mengajak teman-temannya untuk mengikuti majelis-majelis ilmiah, dll. seorang karyawan di sebuah kantor bisa berjihad dengan menyelenggarakan da'wah, shalat berjama'ah, mengumpulkan zakat, infak, shadaqah, menyantuni kaum dhu'afa, dll. Bapak RT bisa berjihad dengan mengajak warganya menjaga kebersihan, memberantas kemaksiatan, dll. Seorang majikan bisa berjihad dengan menyuruh para pembantunya untuk shalat, mengaji, dll. Demikianlah contoh konkret jihad 'aam.

Allah swt. akan memberikan penghargaan yan tinggi kepada orang-orang yang mengisi hidupnya dengan jihad, baik jihad muthlaq, hujjah, ataupun 'amm, sebagaimana firman-Nya.

"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat-Nya, keridhaan, dan syurga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar." (At-Taubah : 20-22)

Tidak Takut Celaan

"... mereka tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela ... (QS. Al-Maidah 5:54)

Rasulullah saw. pernah datang ke daerah Thaif -sebuah kota kecil sekitar 70 km dari kota Mekkah- untuk mengajak penduduk tersebut memeluk Islam. Sesampainya di kota itu, beliau disambut lemparan-lemparan batu sambil diteriaki majnun ...! majnun ... ! (awas orang gila) ... ! orang gila ... !). Akhirnya beliau memutuskan kembali lagi ke Mekkah. Di tengah perjalanan beliau mendo'akan kaum Thaif, "Ya Allah ampuni mereka, sesungguhnya mereka kaum yang belum mengerti dan lahirkan dari mereka generasi pelanjut yang shaleh." Ternyata, saat Rasul saw. dimaki, dihina, dinistakan, bahkan diintimidasi, beliau tidak membalas dengan cacian dan hinaan lagi, malah mendo'akan kebaikan untuk mereka.

Subhanallah, betapa indahnya akhlak beliau. Nah, bila kita ingin masuk pada kelompok generasi alternatif, lakukan sebagaimana yang Rasul saw. lakukan, balaslah cacian dan hinaan dengan sikap yang arif, bijaksana dan do'a yang baik untuk orang-orang yang menghina dan memaki kita. Sudah menjadi sunnatullah (law of nature/hukum alam), bila kita ingin menyampaikan dan melaksanakan kebenaran, akan ada orang yang tidak suka terhadap apa yang kita lakukan, ada juga yang akan mendukung, dan ada pula yang abstein atau tidak menyatakan keberpihakan.

Ada seorang mahasiswi yang dalam berbusana belum sempurna menutup aurat, suatu saat ia mengubah penampilannya dengan busana muslimah keran telah mengerti bahwa seorang wanita bila sudah akil balig wajib menutup auratnya. Menurut Anda, reaksi apa yang akan muncul dari keluarga dan kawan-kawannya? Ada tiga kemungkinan, ada yang memberikan ekspresi dukungan, "Selamat ya, kamu makin cantik dan anggun dengan busana muslimah!" Ada juga yang sebaliknya, mencibir bahkan memakinya "Amit-amit busananya koq kampungan sich!" Ada juga yang tidak menunjukkan keberpihakan, "No comment!"

Allah swt. mengingatkan agar kita bersabar dalam melaksanakan hukum-hukumnya, karena tidak semua orang akan mendukung, pasti bakal ada orang yang tidak suka dengan komitmen dan keberpihakan kita pada kebenaran. Kita tidak perlu takut apalagi mundur dengan cacian, maikan, dan cibiran orang lain selama yang kita lakukan itu benar sesuai dengan perintah-perintah Allah swt.

"Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka, dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian malam, sujudlah kepada-Nya, dan bertasbihlah pada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari." (Al Insaan 76 : 24-26)

Pada ayat ini Allah swt. bukan hanya mengajarkan agar kita bersabar dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan tahan uji menghadapi makian dan penghinaan, melainkan juga memberikan jalan agar kita memiliki kekuatan menghadapi cacian, makian, dan hinaan dari orang-orang yang tidak menyukai kebenaran, yaitu dengan mendekatkan diri kepada-Nya lewat shalat malam, karena shalat malam merupakan sarana dialog dengan Allah, sarana untuk meminta kekuatan dan ketabahan.

Penutup

Apabila lima ciri generasi alternatif yang sudah kita bicarakan pada MaPI edisi 02, 03 dan 04 ini, yaitu mencintai Allah, lembut kepada sesama orang beriman, tegas terhadap orang kafir, berjihad di jalan-Nya, dan tidak mundur karena hinaan dan cemoohan orang-orang yang tidak suka pada kebenaran itu kita miliki, Allah swt. mengklasifikasikan kita sebagai orang-orang yang mendapat karunia yang tak terhingga.

"Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Maidah 5:54)

Mudah-mudahan kita diberi kekuatan untuk meraihnya. Amin. **