Karim Business Consulting

Batavia Tower, 14th fl Phone :+62 21 572 7405

Jl KH Mas Mansyur kav 126 Fax :+62 21 572 7409

Jakarta 10220 Email : business@karimconsulting.com

EKONOMI ISLAMI :

Suatu Kajian Ekonomi Mikro

 

 

Oleh

Adiwarman A. Karim

 

 

Asisten Penulis:

Nenny Kurnia

Ilham D. Sannang

 

 

Kata Pengantar:

Prof. Dr. Dawam Rahardjo

BAB I

PENDAHULUAN

 

Sejarah membuktikan bahwa para pemikir muslim merupakan penemu, peletak dasar, dan pengembang banyak bidang-bidang ilmu. Nama-nama pemikir muslim bertebaran di sana-sini menghiasi arena ilmu-ilmu pengetahuan. Baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial. Mulai dari filsafat, matematika, astronomi, ilmu optik, biologi, kedokteran, sejarah, sosiologi, psikologi, pedagogi, sampai sastra. Termasuk juga, tentunya, ilmu ekonomi.

 

Para pemikir klasik muslim tidak terjebak untuk mengkotak-kotakan berbagai macam ilmu tersebut seperti yang dilakukan oleh para pemikir saat ini. Mereka melihat ilmu-ilmu tersebut sebagai "ayat-ayat" Allah yang bertebaran di seluruh alam. Dalam pandangan mereka, ilmu-ilmu itu walaupun sepintas terlihat berbeda-beda dan bermacam-macam jenisnya, namun pada hakekatnya berasal dari sumber yang satu, yakni dari Yang Maha Mengetahui seluruh ilmu, Yang Maha Benar, Allah SWT. Para pemikir muslim memang melakukan klasifikasi terhadap berbagai macam ilmu, tetapi yang dilakukan oleh mereka adalah pembedaan, bukan pemisahan. Karenanya tidaklah mengherankan bila para pemikir klasik muslim menguasai berbagai macam bidang ilmu. Ibn Sina (980-1037M), sebagai contoh, selain terkenal sebagai ahli kedokteran, juga adalah ahli filsafat. Bahkan ia juga mendalami psikologi dan musik. Al-Ghazaly (450H/1058M–505H/1111M), selain banyak membahas masalah-masalah fiqh (hukum), ilmu kalam (teologi), dan tasauf, beliau juga banyak membahas masalah filsafat, pendidikan, psikologi, ekonomi, dan pemerintahan. Ibn Khaldun (1332-1404 M) selain banyak membahas masalah sejarah, juga banyak menyinggung masalah-masalah sosiologi, antropologi, budaya, ekonomi, geografi, pemerintahan, pembangunan, peradaban, filsafat, epistemologi, psikologi, dan juga futurologi.

 

Sayangnya, tradisi pemikiran seperti ini tidak berlanjut sampai sekarang karena mundurnya peradaban umat muslim hampir di segala bidang. Kemunduran ini sebagian disebabkan karena musuh dari luar, sebagian lagi disebabkan oleh sikap umat muslim sendiri. Umat muslim tenggelam lama dalam tidur nyenyaknya. Kegiatan berfikir terhenti, sehingga umat muslim mengalami kemerosotan di segala bidang. Mulai dari bidang politik, ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, sosial, seni, dan kebudayaan. Lama-kelamaan peradaban muslim tidak terdengar lagi gaungnya untuk jangka waktu yang lama. Bahkan negeri-negeri muslim akhirnya menjadi sasaran empuk penjajahan bangsa-bangsa non-muslim. Banyak institusi khas Islam yang terpinggirkan (untuk tidak menyebut hilang). Kedaulatan politik diambil alih oleh bangsa penjajah. Sistem hukum Islam yang berlaku diganti dengan sistem hukum penjajah warisan Romawi. Institusi ekonomi Islam (baitul maal, al-hisbah, suftaja, hawala, funduq, dar al-Tiraz, Ma’una dll) terpinggirkan. Dalam bidang seni dan budaya, terjadi pengekoran yang membabi buta terhadap budaya Barat. Dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, terjadi sekularisasi. Hasilnya, pada masa kini umat muslim identik dengan kebodohan dan kemiskinan. Sungguh ironis mengingat ayat al-Qur’an yang pertama turun adalah perintah "Iqra!": "Bacalah!", dan mengingat salah satu do’a Nabi SAW yang selalu beliau ulang-ulang : "Ya Allah, Aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefaqiran..."

 

Di tengah-tengah keadaan seperti ini, terjadilah proses kehilangan fakta-fakta sejarah, baik disengaja maupun tidak. Andil pemikir-pemikir muslim dalam ilmu-ilmu pengetahuan tertutupi, sehingga bila kita membaca buku-buku sejarah ilmu pengetahuan, maka kebanyakan menyatakan bahwa sejak zaman filosof-filosof Yunani yang masyhur (Socrates, Plato, Aristoteles, dll) beberapa abad sebelum masehi, terjadi kekosongan perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini dialami oleh semua ilmu, tidak terkecuali ilmu ekonomi.

 

Joseph Schumpeter, misalnya dalam buku magnum opus-nya menyatakan adanya great gap dalam sejarah pemikiran ekonomi selama 500 tahun, yaitu masa yang dikenal sebagai dark ages. Masa kegelapan Barat itu sebenarnya merupakan masa kegemilangan umat muslim, suatu hal yang berusaha ditutup-tutupi oleh Barat karena pemikiran ekonom muslim pada masa inilah yang kemudian banyak dicuri oleh para ekonom Barat. Para ekonom muslim sendiri mengakui, mereka banyak membaca dan dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Aristoteles (367-322 SM) sebagai filsuf yang banyak menulis masalah ekonomi. Namun, mereka tetap menjadikan Quran dan Hadis sebagai rujukan utama dalam menulis teori-teori ekonomi Islam. Schumpeter menyebut dua kontribusi ekonom Scholastic, yaitu penemuan kembali tulisan-tulisan Aristoteles dan towering achievement St.Thomas Aquinas (1225-1274). Schumpeter hanya menulis tiga baris dalam catatan kakinya nama Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dalam kaitan proses transmisi pemikiran Aristoteles kepada St.Thomas. Pemikiran ekonomi St.Thomas sendiri banyak yang bertentangan dengan dogma-dogma gereja sehingga para sejarawan menduga St.Thomas mencuri ide-ide itu dari para ekonom Islam.

 

Adapun proses pencurian terjadi dalam berbagai bentuk. Pada abad ke-11 dan ke-12, sejumlah pemikir Barat seperti Constantine the African, Adelard of Bath melakukan perjalanan ke Timur Tengah. Mereka belajar bahasa Arab dan melakukan studi serta membawa ilmu-ilmu baru ke Eropa. Contohnya, Leonardo Fibonacci atau Leonardo of Pisa belajar di Bougie, Aljazair pada abad ke-12. Ia juga belajar aritmetika dan matematika Al-Khawarizmi (780-850 M) dan sekembalinya dari sana ia menulis buku Liber Abaci pada 1202. Raymond Lily (1223-1315) yang telah melakukan perjalanan ke negara-negara Arab mendirikan lima universitas yang mengajarkan bahasa Arab sehingga banyak yang kemudian menerjemahkan karya-karya ekonom muslim. Di antara penerjemah tersebut adalah Adelard of Bath, Constantine the African, Michael Scot, Hermaan the German, Dominic Gundislavi, John of Seville, Plato of Tivoli, William of Luna, Robert Chester, Gerard of Cremona, Theodorus of Antioch, Alfred of Sareshel, Berenger of Valencia, dan Mathew of Aquasparta. Sementara itu, di antara para penerjemah Yahudi adalah Jacob of Anatolio, Jacob ben Macher Ibn Tibbon, Kalanymus ben Kalonymus, Moses ben Solomon of Solon, Shem-Tob ben Isaac of Tortosa, Solomon ibn Ayyub, Todros Todrosi, Zerahiah Gracian, Faraj ben Salim, dan Yaqub ben Abbon Marie. Adapun karya-karya ekonom muslim yang diterjemahkan adalah Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Al Khawarizmi, Ibnu Haytham, Ibnu Hazm, Jabir Ibnu Hayyan, Ibnu Bajja, Ar Razi.

 

Beberapa pemikiran ekonom muslim yang dicuri tanpa pernah disebut sumber kutipannya antara lain:

 

· Teori Pareto Optimum diambil dari kitab Nahjul Balaghah Imam Ali.

· Bar Hebraeus, pendeta Syriac Jacobite Church, menyalin beberapa bab Ihya Ulumuddin Al Ghazali.

· Gresham-law dan Oresme Treatise- dari kitab Ibnu Taimiyah.

· Pendeta Gereja Spanyol Ordo Dominican Raymond Martini menyalin banyak bab dari Tahafut Al Falasifa, Maqasid al Falasifa, Al Munqid, Misykat al Anwar, dan Ihya-nya Al Ghazali.

· St. Thomas menyalin banyak bab dari Al Farabi (St Thomas yang belajar di Ordo Dominican mempelajari ide-ide Al Ghazali dari Bar Hebraeus dan Martini).

· Bapak Ekonomi Barat, Adam Smith (1776 M), dengan bukunya The Wealth of Nations diduga banyak mendapat insprirasi dari buku al Amwal-nya Abu Ubayd (838 M) yang dalam bahasa Inggrisnya adalah persis judul bukunya Adam Smith The Wealth.

 

Dengan demikian, pemikir-pemikir ekonomi muslim telah mengidentifikasi banyak konsep, variabel, dan teori-teori ekonomi yang masih relevan hingga kini. Ibnu Al-Nadim (438H/1047 M) mencatat nama beberapa ulama dengan sejumlah karya ilmiah yang secara khusus membahas masalah ekonomi dan keuangan. Sebagian karya itu ada yang masih bertahan sampai sekarang, sebagian lagi sudah hilang. Yang hilang itu antara lain adalah:

 

Hafshawaih: "Kitab Al-Kharaj". Buku ini merupakan yang pertama dalam masalah ini.

Al-Hasan Bin Ziyad Al-Lu’lu’i (204H/819M): "Al-Kharaj" dan "Al-Nafaqat"

Al-Haetsam Bin Adi Al-Kufi (114-207H/732-831M):...

Ibn Daud (208H/823M):...

Al-Ashma’i, Abu Said Abdul Malik (122-216H/740-831M): "Kitab Al-Kharaj".

Ibn Al-Madini, Ali Bin Abdullah Bin Ja’far Al-Sa’di(161-234H/777-849M) :"Amwal Al-Nabi Shallallahu ‘Alaih Wasallam".

Ja’far Bin Mubasysyir (234H848M)

Abul ‘Abbas Al-Ahwal (270H/883M).

 

Adapun yang sampai ke tangan kita adalah:

 

"Risalat Al-Shahabah", karya Abdullah Bin Al-Muqaffa’ (109-145H/727-762M). Buku ini ditulis untuk seorang Khalifah Abasiyah, Abu Ja’far Al-Mansur (136-158H/754-775M). Isinya secara umum berbicara tentang kebijakan dan administrasi keuangan negara.

"Kitab Al-Kharaj", karya Abu Yusuf (113-182H/731-789M). Buku ini ditulis sebagai jawaban atas 26 pertanyaan yang diajukan oleh Harun Al-Rasyid (170-193H/786-809M) dalam kurun waktu antara tahun 170H-171H.

"Kitab Al-Kharaj", karya Yahya Bin Adam Al-Qurasyi (140-203H/757-818M). Buku kecil ini mengumpulkan hadis-hadis yang terkait dengan Fiqh Al-Amwal.

"Kitab Al-Amwal", karya Abu Ubaid Al-qasim Bin Sallam (157-224H/774-838M). Buku ini membahas kebijakan keuangan negara. Dibandingkan yang lain, buku ini merupakan yang paling komprehensif dan lengkap.

"Kitab Al-Amwal", karya Abu Hamid Bin Zanjawaih (180-251H/796-865M)

 

Kitab-kitab di atas itu adalah yang berhasil dicatat oleh Ibn Nadim hingga tahun 1047M. Setelah tahun tersebut, banyak lagi pemikir muslim yang lahir dan menyumbangkan pemikiran-pemikiran ekonominya, misalnya Abu Hamid Al-Ghazaly (1058-1111), Ibn Taimiyah (1283-1328), dan Ibn Khaldun (1332-1404).

Karena itu, para pemikir muslim sebenarnya telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan ilmu ekonomi modern. Dengan demikian, teori ekonomi Islami sebenarnya bukan ilmu baru.

 

Oleh karena itu sikap umat Islam terhadap ilmu-ilmu dari Barat, termasuk ilmu ekonomi versi "konvensional", adalah la tukadzibuhu jamii’a, wala tushahhibuhu jamii’a (Jangan tolak semuanya, dan jangan pula terima semuanya). Maka ekonom muslim tidak perlu terkesima dengan teori-teori ekonomi Barat. Ekonom muslim perlu mempunyai akses terhadap kitab-kitab klasik Islam. Di lain pihak, Fuqaha Islam perlu juga mempelajari teori-teori ekonomi modern agar dapat menerjemahkan kondisi ekonomi modern dalam bahasa kitab klasik Islam.

 

BAB II

RANCANG BANGUN EKONOMI ISLAMI

 

 

A. MENGAPA HARUS ADA EKONOMI ISLAMI?

 

Revolusi ilmu pengetahuan yang terjadi di Eropa Barat sejak abad 16 masehi menyebabkan pamor dan kekuasaan institusi gereja (agama kristen) di benua tersebut menurun drastis. Hal ini terjadi karena dogma yang dipegang dan diajarkan oleh tokoh-tokoh gereja pada abad tersebut jelas-jelas bertentangan dengan fakta-fakta yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan. Akibatnya terjadi proses sekularisasi di dunia Eropa-Barat dalam segala bidang, termasuk dalam ilmu pengetahuan. Agama, Tuhan, nilai-nilai, dan norma secara drastis dikeluarkan dari struktur pemikiran para ilmuwan. Karena itu lahirlah ilmu pengetahuan yang bersifat positivistik. Ilmu positivistik hanya menjawab pertanyaan "What is?", yakni hanya menjelaskan fakta-fakta secara apa adanya. Karena itu tugas ilmu pengetahuan menjadi hanya to explain (menerangkan hubungan antar variabel) dan to predict (meramalkan kejadian di masa depan berdasarkan teori yang ada). Pertanyaan normatif "what should?", "what best?" yang mempertanyakan apa yang terbaik atau yang seharusnya dilakukan, dikesampingkan. Jawaban pertanyaan ini diserahkan sepenuhnya pada setiap individu berdasarkan selera pribadi. Ini adalah semangat Renaissance-humanisme (kebangkitan manusia) dan gerakan Aufklarung (pencerahan) di Eropa Barat. Manusia menjadi titik sentral untuk menentukan standar baik-buruk dan jalan hidupnya. Karena itu, dengan semangat renaissance ini manusia Eropa Barat sejak abad 16 membebaskan dirinya dari "belenggu dan kungkungan" agama dan Tuhan.

 

Produk pemikiran dan ilmu pengetahuan yang dihasilkan pun mengalami nasib yang sama. Ilmu menjadi tersekulerisasi dan dibebaskan dari nilai-nilai. Paradigma Cartesian dengan metode analisisnya—walaupun banyak sekali manfaatnya—menyumbangkan tambahan permasalahan. Metode ini menyebabkan fragmentasi pemikiran dan reduksionisme dalam sains, yakni keyakinan bahwa semua aspek yang begitu kompleks dari suatu fenomena dapat dipahami hanya dengan memecahnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Akibatnya sosiologi, politik, antropologi dan ekonomi dalam ilmu sosial misalnya, diperlakukan sebagai ilmu-ilmu yang independen. Karena itu sebagai contoh, ahli politik mengabaikan faktor-faktor ekonomi, sementara ahli ekonomi mengabaikan dimensi politis dan sosial dalam kerangka teori yang dirumuskannya.

 

Dari paradigma inilah (sekulerisasi, fragmentasi dan kebebas-nilaian pengetahuan) ilmu pengetahuan modern dibangun. Termasuk ilmu ekonomi konvensional. (Istilah ilmu ekonomi konvensional kita gunakan untuk mengacu pada ilmu ekonomi yang didasarkan pada paradigma di atas). Paradigma ini sebenarnya sudah dikritik oleh banyak ilmuwan non muslim, sebut saja di antaranya Sismondi (1773-1842), Carlyle (1795-1881), Ruskin (1819-1900), Hobson (1858-1940) Tawney (1880-1962), E. F. Schumacher (1891-1971), Kenneth Boulding (1910-93), Quentin Skinner, Theodore Roszak, Erich Fromm, Fritjof Capra, Hazel Henderson, Tage Lindbom, Gunnar Myrdal, J. K. Galbraith, R. Heilbroner, John Broome, Amartya Sen dan lain-lain. Sekelompok ilmuwan di antara mereka bukan hanya menyarankan pendekatan interdisipliner dalam mempelajari fenomena manusiawi, tetapi lebih dari pada itu, mereka pun menyarankan pendekatan holistik. Pendekatan ini mengintegrasikan baik kebutuhan material maupun spiritual manusia, interaksi antar manusia, serta interaksi manusia dengan alam semesta. Dalam ilmu ekonomi, hasil kritikan ini melahirkan mazhab-mazhab baru, di antaranya Grant Economics, Humanistic Economics, Social Economics, dan Institutional Economics.

 

Mazhab-mazhab ini memasukkan aspek-aspek normatif, sosial dan institusional perilaku manusia dalam model pemikirannya. Namun kesemuanya menghadapi problem karena mereka sulit untuk menemukan standar nilai yang sama yang disepakati secara luas. Tidak adanya standar nilai yang sama menyebabkan timbulnya konflik kepentingan, karena masing-masing pihak memiliki pendapat yang berbeda-beda, dan tidak jarang pula pendapat tersebut saling bertentangan. Akhirnya, konsensus sulit untuk dicapai. Seperti yang dikatakan oleh Minsky, "There is no consensus on what we ought to do."

 

Dengan fakta-fakta seperti ini, akan menjadi ironi bagi ilmuwan muslim jika mereka menerima begitu saja ilmu ekonomi konvensional tanpa menelaahnya terlebih dahulu, sementara ilmuwan non muslim sendiripun sudah ramai-ramai mengkritiknya. Ilmu ekonomi konvensional yang mengesampingkan aspek normatif tentunya bukan menjadi pilihan berfikir seorang ekonom muslim. Empat mazhab ekonomi alternatif yang telah disebutkan di atas juga tidak dapat diadopsi oleh ekonom muslim, karena mazhab ini menghadapi problem perbedaan standar nilai. Karena itu, ekonom muslim perlu mengembangkan suatu ilmu ekonomi yang khas, yang dilandasi oleh nilai-nilai Iman dan Islam yang dihayati dan diamalkannya. Sebut saja ilmu ini: Ilmu Ekonomi Menurut Perspektif Islam, atau singkatnya Ekonomi Islami.

 

 

B. EKONOMI ISLAMI: PERBEDAAN SUDUT PANDANG

 

Sejauh ini kita telah mengetahui perbedaan-perbedaan yang diametral antara paradigma yang mendasari ekonomi konvensional dengan paradigma yang mendasari ekonomi islami. Keduanya tidak mungkin dan tidak akan pernah mungkin untuk dikompromikan, karena masing-masingnya didasarkan atas pandangan-dunia (weltanschauung) yang berbeda. Ekonomi konvensional melihat ilmu sebagai sesuatu yang sekuler (berorientasi hanya pada kehidupan duniawi--kini dan di sini,) dan sama sekali tidak memasukkan Tuhan serta tanggung jawab manusia kepada Tuhan di akhirat dalam bangun pemikirannya. Karena itu ilmu ekonomi konvensional menjadi bebas nilai (positivistik). Sementara itu, ekonomi islami justru dibangun atas, atau paling tidak diwarnai oleh, prinsip-prinsip relijius (berorientasi pada kehidupan dunia—kini dan di sini—dan sekaligus kehidupan akhirat—nanti dan di sana).

 

Dalam tataran paradigma seperti ini, ekonom-ekonom muslim tidak menghadapi masalah perbedaan pendapat yang berarti. Namun ketika mereka diminta untuk menjelaskan apa dan bagaimanakah konsep ekonomi islami itu, mulai muncullah perbedaan pendapat. Sampai saat ini, pemikiran ekonom-ekonom muslim kontemporer dapat kita klasifikasikan setidaknya menjadi tiga mazhab, yakni:

Mazhab Baqir as-Sadr

Mazhab mainstream; dan

Mazhab Alternatif-kritis

 

 

Mazhab Baqir as-Sadr

 

Mazhab ini dipelopori oleh Baqir as-Sadr dengan bukunya yang fenomenal: Iqtishaduna (ekonomi kita). Mazhab ini berpendapat bahwa ilmu ekonomi (economics) tidak pernah bisa sejalan dengan Islam. Ekonomi tetap ekonomi, dan Islam tetap Islam. Keduanya tidak akan pernah dapat disatukan, karena keduanya berasal dari filosofi yang saling kontradiktif. Yang satu anti-Islam, yang lainnya Islam.

 

Menurut mereka, perbedaan filosofi ini berdampak pada perbedaan cara pandang keduanya dalam melihat masalah ekonomi. Menurut ilmu ekonomi, masalah ekonomi muncul karena adanya keinginan manusia yang tidak terbatas sementara sumber daya yang tersedia untuk memuaskan keinginan manusia tersebut jumlahnya terbatas. Mazhab Baqir menolak pernyataan ini, karena menurut mereka, Islam tidak mengenal adanya sumber daya yang terbatas. Dalil yang dipakai adalah Al-Qur’an :

 

"Sungguh telah Kami ciptakan segala sesuatu dalam ukuran yang setepat-tepatnya"

 

Dengan demikian, karena segala sesuatunya sudah terukur dengan sempurna, sebenarnya Allah telah memberikan sumber daya yang cukup bagi seluruh manusia di dunia.

 

Pendapat bahwa keinginan manusia itu tidak terbatas juga ditolak. Contoh: Manusia akan berhenti minum jika dahaganya sudah terpuaskan. Karena itu, mazhab ini berkesimpulan bahwa keinginan yang tidak terbatas itu tidak benar sebab pada kenyataannya keinginan manusia itu terbatas. (Bandingkan pendapat ini dengan teori Marginal Utility, Law of Diminishing Returns, dan Hukum Gossen dalam ilmu ekonomi!)

 

Mazhab Baqir berpendapat bahwa masalah ekonomi muncul karena adanya distribusi yang tidak merata dan adil sebagai akibat sistem ekonomi yang membolehkan eksploitasi pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah. Yang kuat memiliki akses terhadap sumber daya sehingga menjadi sangat kaya, sementara yang lemah tidak memiliki akses terhadap sumber daya sehingga menjadi sangat miskin. Karena itu masalah ekonomi muncul bukan karena sumber daya yang terbatas, tetapi karena keserakahan manusia yang tidak terbatas.

 

Karena itu menurut mereka, istilah ekonomi islami adalah istilah yang bukan hanya tidak sesuai dan salah, tapi juga menyesatkan dan kontradiktif, karena itu penggunaan istilah ekonomi islami harus dihentikan. Sebagai gantinya, ditawarkan istilah baru yang berasal dari filosofi islam, yakni iqtishad. Menurut mereka, iqtishad bukan sekedar terjemahan dari ekonomi. Iqtishad berasal dari kata bahasa Arab qasd yang secara harfiah berarti "ekuilibrium" atau "keadaan sama, seimbang atau pertengahan".

 

Sejalan dengan itu, maka semua teori yang dikembangkan oleh ilmu ekonomi konvensional ditolak dan dibuang. Sebagai gantinya mazhab ini berusaha untuk menyusun teori-teori baru dalam ekonomi yang langsung digali dan dideduksi dari al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

Tokoh-tokoh mazhab ini selain Muhammad Baqir as-Sadr adalah Abbas Mirakhor, Baqir al-Hasani, Kadim as-Sadr, Iraj Toutounchian, Hedayati, dll.

 

Mazhab Mainstream

Mazhab Mainstream berbeda pendapat dengan mazhab Baqir. Mazhab kedua ini justru setuju bahwa masalah ekonomi muncul karena sumber daya yang terbatas yang dihadapkan pada keinginan manusia yang tidak terbatas. Memang benar misalnya, bahwa total permintaan dan penawaran beras di seluruh dunia berada pada titik ekuilibrium. Namun jika kita berbicara pada tempat dan waktu tertentu, maka sangat mungkin terjadi kelangkaan sumber daya. Bahkan ini yang seringkali terjadi. Suplai beras di Ethiopia dan Bangladesh misalnya tentu lebih langka dibandingkan di Thailand. Jadi keterbatasan sumber daya memang ada, bahkan diakui pula oleh Islam. Dalil yang dipakai adalah :

 

"Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar"

 

Sedangkan keinginan manusia yang tidak terbatas dianggap sebagai hal yang alamiah. Dalilnya:

 

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke liang kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)"

 

Dan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa manusia tidak akan pernah puas. Bila diberikan emas satu lembah, ia akan meminta emas dua lembah. Bila diberikan dua lembah, ia akan meminta tiga lembah dan seterusnya sampai ia masuk kubur.

 

Dengan demikian, pandangan mazhab ini tentang masalah ekonomi hampir tidak ada bedanya dengan pandangan ekonomi konvensional. Kelangkaan sumber dayalah yang menjadi penyebab munculnya masalah ekonomi. Bila demikian, di manakah letak perbedaan mazhab mainstream ini dengan ekonomi konvensional?

 

Perbedaannya terletak dalam cara menyelesaikan masalah tersebut. Dilema sumber daya yang terbatas versus keinginan yang tak terbatas memaksa manusia untuk melakukan pilihan-pilihan atas keinginannya. Kemudian manusia membuat skala prioritas pemenuhan keinginan, dari yang paling penting sampai yang paling tidak penting. Dalam ekonomi konvensional, pilihan dan penentuan skala prioritas dilakukan berdasarkan selera pribadi masing-masing. Manusia boleh mempertimbangkan tuntutan agama, boleh juga mengabaikannya. Dalam bahasa al-Qur’annya, pilihan dilakukan dengan "mempertuhankan hawa nafsunya". Tetapi dalam ekonomi islami, keputusan pilihan ini tidak dapat dilakukan semaunya saja. Perilaku manusia dalam setiap aspek kehidupannya—termasuk ekonomi—selalu dipandu oleh Allah lewat al-Qur’an dan Sunnah.

 

Tokoh-tokoh mazhab ini di antaranya M.Umer Chapra, M.A. Mannan, M. Nejatullah Siddiqi, dll. Mayoritas bekerja di Islamic Development Bank (IDB). Yang memiliki dukungan dana dan akses ke berbagai negara sehingga penyebaran pemikirannya dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Mereka adalah para doktor di bidang ekonomi yang belajar (dan ada juga yang mengajar) di universitas-universitas barat. Karena itu, mazhab ini tidak pernah membuang sekaligus teori-teori ekonomi konvensional ke keranjang sampah.

 

Umer Chapra misalnya berpendapat bahwa usaha mengembangkan ekonomi islami bukan berarti memusnahkan semua hasil analisis yang baik dan sangat berharga yang telah dicapai oleh ekonomi konvensional selama lebih dari seratus tahun terakhir.

 

Mengambil hal-hal yang baik dan bermanfaat yang dihasilkan oleh bangsa dan budaya non islam sama sekali tidak diharamkan. Nabi bersabda bahwa hikmah/ilmu itu bagi umat islam adalah ibarat barang yang hilang. Di mana saja ditemukan, maka umat muslimlah yang paling berhak mengambilnya. Catatan sejarah umat muslim memperkuat hal ini. Para ulama dan ilmuwan muslim banyak meminjam ilmu dari peradaban lain seperti Yunani, India, Persia, Cina, dll. Yang bermanfaat diambil, yang tidak bermanfaat dibuang, sehingga terjadi transformasi ilmu dengan diterangi cahaya Islam.

Mazhab Alternatif-Kritis

 

Pelopor mazhab ini adalah Timur Kuran (Ketua Jurusan Ekonomi di University of Southern California), Jomo (Yale, Cambridge, Harvard, Malaya), Muhammad Arif, dll. Mazhab ini mengkritik kedua mazhab sebelumnya. Mazhab Baqir dikritik sebagai mazhab yang berusaha untuk menemukan sesuatu yang baru yang sebenarnya sudah ditemukan oleh orang lain. Menghancurkan teori lama, kemudian menggantinya dengan teori baru. Sementara mazhab mainstream dikritiknya sebagai jiplakan dari ekonomi neoklasik dengan menghilangkan variabel riba dan memasukkan variabel zakat serta niat.

 

Mazhab ini adalah sebuah mazhab yang kritis. Mereka berpendapat bahwa analisis kritis bukan saja harus dilakukan terhadap sosialisme dan kapitalisme, tetapi juga terhadap ekonomi islami itu sendiri. Mereka yakin bahwa Islam pasti benar, tetapi ekonomi islami belum tentu benar karena ekonomi islami adalah hasil tafsiran manusia atas al-Qur’an dan Sunnah, sehingga nilai kebenarannya tidak mutlak. Proposisi dan teori yang diajukan oleh ekonomi islami harus selalu diuji kebenarannya sebagai mana yang dilakukan terhadap ekonomi konvensional.

 

C. PRINSIP-PRINSIP UMUM EKONOMI ISLAMI

 

Walaupun pemikiran para pakar tentang ekonomi islami terbagi-bagi ke dalam tiga mazhab tersebut, namun pada dasarnya mereka setuju dengan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya. Prinsip-prinsip ini membentuk keseluruhan kerangka ekonomi islami, yang jika diibaratkan sebagai sebuah bangunan dapat divisualisasikan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bangunan ekonomi islami didasarkan atas lima nilai universal, yakni: Tauhid (Keimanan), ‘Adl (Keadilan), Nubuwwah (Kenabian), Khilafah (Pemerintahan), dan Ma’ad (Hasil). Kelima nilai ini menjadi dasar inspirasi untuk menyusun proposisi-proposisi dan teori-teori ekonomi islami.

 

Namun, teori yang kuat dan baik tanpa diterapkan menjadi sistem, akan menjadikan ekonomi islami hanya sebagai kajian ilmu saja tanpa memberi dampak pada kehidupan ekonomi. Karena itu, dari kelima nilai-nilai universal tersebut, dibangunlah tiga prinsip derivatif yang menjadi ciri-ciri dan cikal bakal sistem ekonomi islami. Ketiga prinsip derivatif itu adalah multitype ownership, freedom to act, dan social justice.

 

Di atas semua nilai dan prinsip yang telah diuraikan di atas, dibangunlah konsep yang memayungi kesemuanya, yakni konsep akhlaq. Akhlaq menempati posisi puncak, karena inilah yang menjadi tujuan Islam dan dakwah para Nabi, yakni untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Akhlaq inilah yang menjadi panduan para pelaku ekonomi dan bisnis dalam melakukan aktivitasnya.

1. Nilai-Nilai Universal – Teori Ekonomi

 

Nilai-nilai ini menjadi dasar inspirasi untuk membangun teori-teori ekonomi islami. Rinciannya :

 

 

Tauhid (Keesaan Tuhan)

Tauhid merupakan fondasi ajaran Islam. Dengan tauhid, manusia menyaksikan bahwa "tiada sesuatupun yang layak disembah selain Allah", dan "tidak ada pemilik langit, bumi dan isinya, selain dari pada Allah" Karena Allah adalah pencipta alam semesta dan isinya dan sekaligus pemiliknya, termasuk pemilik manusia dan seluruh sumber daya yang ada. Karena itu, Allah adalah pemilik hakiki. Manusia hanya diberi amanah untuk "memiliki" untuk sementara waktu, sebagai ujian bagi mereka. Dalam Islam, segala sesuatu yang ada tidak diciptakan dengan sia-sia, tetapi memiliki tujuan. Tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepadaNya. Karena itu segala aktivitas manusia dalam hubungannya dengan alam (sumber daya) dan manusia (mu’amalah) dibingkai dengan kerangka hubungan dengan Allah. Karena kepadaNya kita akan memper-tanggungjawabkan segala perbuatan kita, termasuk aktivitas ekonomi dan bisnis.

 

 

b. ‘Adl (Keadilan)

Allah adalah pencipta segala sesuatu, dan salah satu sifatNya adalah adil. Dia tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap makhluk-Nya secara zalim. Manusia sebagai khalifah di muka bumi harus memelihara hukum Allah di bumi, dan menjamin bahwa pemakaian segala sumber daya diarahkan untuk kesejahteraan manusia, supaya semua mendapat manfaat dari padanya secara adil dan baik.

 

Dalam banyak ayat, Allah memerintahkan manusia untuk berbuat adil. Islam mendefinisikan adil sebagai "tidak menzalimi dan tidak dizalimi". Implikasi ekonomi dari nilai ini adalah bahwa pelaku ekonomi tidak dibolehkan untuk mengejar keuntungan pribadi bila hal itu merugikan orang lain atau merusak alam. Tanpa keadilan, manusia akan terkelompok-kelompok dalam berbagai golongan. Golongan yang satu akan menzalimi golongan yang lain, sehingga terjadi eksploitasi manusia atas manusia. Masing-masing berusaha mendapatkan hasil yang lebih besar dari pada usaha yang dikeluarkannya karena kerakusannya.

 

c. Nubuwwah (Kenabian)

Karena rahman, rahim dan kebijaksanaan Allah, manusia tidak dibiarkan begitu saja di dunia tanpa mendapat bimbingan. Karena itu diutuslah para nabi dan rasul untuk menyampaikan petunjuk dari Allah kepada manusia tentang bagaimana hidup yang baik dan benar di dunia, dan mengajarkan jalan untuk kembali (taubah) ke asal-muasal segala, Allah. Fungsi rasul adalah untuk menjadi model terbaik yang harus diteladani manusia agar mendapat keselamatan di dunia dan akhirat. Untuk umat muslim, Allah telah mengirimkan "manusia model" yang terakhir dan sempurna untuk diteladani sampai akhir zaman, Nabi Muhammad saw. Sifat-sifat utama sang model yang harus diteladani oleh manusia pada umumnya dan pelaku ekonomi dan bisnis pada khususnya, adalah sebagai berikut:

 

Siddiq (Benar, Jujur)

Sifat siddiq harus menjadi visi hidup setiap muslim, karena hidup kita berasal dari Yang Maha Benar, maka kehidupan di dunia pun harus dijalani dengan benar, supaya kita dapat kembali pada pencipta kita, Yang Maha Benar. Dengan demikian tujuan hidup muslim sudah terumus dengan baik Dari konsep sidq ini, muncullah konsep turunan khas ekonomi dan bisnis, yakni efektifitas (mencapai tujuan yang tepat, benar) dan efisiensi (melakukan kegiatan dengan benar, yakni menggunakan teknik dan metode yang tidak menyebabkan kemubaziran. Karena kalau mubazir berarti tidak benar).

 

Amanah (Tanggung jawab, Kepercayaan, Kredibilitas)

Amanah menjadi misi hidup setiap muslim. Karena Sang Benar hanya dapat kita jumpai dalam keadaan ridha dan diridhai, bila kita menepati amanat yang telah dipikulkan kepada kita. Sifat ini akan membentuk kredibilitas yang tinggi dan sikap penuh tanggung jawab pada setiap individu muslim. Kumpulan individu dengan kredibilitas dan tanggung jawab yang tinggi akan melahirkan masyarakat yang kuat, karena dilandasi oleh saling percaya antar anggotanya. Sifat amanah memainkan peranan yang fundamental dalam ekonomi dan bisnis, karena tanpa kredibilitas dan tanggung jawab, kehidupan ekonomi dan bisnis akan hancur.

 

Fathanah (Kecerdikan, Kebijaksanaan, Intelektualita)

Sifat ini dapat dipandang sebagai strategi hidup setiap muslim. Karena untuk mencapai Sang Benar, kita harus meng-optimalkan segala potensi yang telah diberikan oleh-Nya. Potensi paling berharga dan termahal yang hanya diberikan pada manusia adalah akal (intelektualita). Karena itu Allah dalam al-Qur’an selalu menyindir orang-orang yang menolak seruan untuk kembali (taubat) kepada-Nya dengan kalimat "Apakah kamu tidak berfikir? Apakah kamu tidak menggunakan akalmu?" Dan orang yang paling bertakwa justru adalah orang yang paling mengoptimalkan potensi fikirnya. Bahkan peringatan yang paling keras adalah "dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya".

 

Implikasi ekonomi dan bisnis dari sifat ini adalah bahwa segala aktivitas harus dilakukan dengan ilmu, kecerdikan dan pengoptimalan semua potensi akal yang ada untuk mencapai tujuan. Jujur, benar, kredibel dan bertanggung jawab saja tidak cukup dalam berekonomi dan berbisnis. Para pelaku harus pintar dan cerdik supaya usahanya efektif dan efisien, dan agar tidak menjadi korban penipuan. Bandingkan ini dengan konsep manajemen work hard vs work smart. Dalam ekonomi Islam tidak ada dikotomi ini, karena konsepnya work hard and smart.

 

Tabligh (Komunikasi, Keterbukaan, Pemasaran)

Sifat ini merupakan taktik hidup muslim. Karena setiap muslim mengemban tanggung jawab da’wah, yakni menyeru, mengajak, memberitahu. Sifat ini bila sudah mendarah daging pada setiap muslim, apalagi yang begerak dalam bidang ekonomi dan bisnis, akan menjadikan setiap pelaku ekonomi dan bisnis sebagai pemasar-pemasar yang tangguh dan lihai. Karena sifat tabligh menurunkan prinsip-prinsip ilmu komunikasi (personal maupun massal), pemasaran, penjualan, periklanan, pembentukan opini massa, open management, iklim keterbukaan, dan lain-lain.

 

Dengan demikian, kegiatan ekonomi dan bisnis manusia harus mengacu pada prinsip-prinsip yang telah diajarkan oleh nabi dan rasul. Nabi misalnya mengajarkan bahwa "Yang terbaik di antaramu adalah yang paling bermanfaat bagi manusia". Dengan kata lain, bila kita ingin "menyenangkan Allah", maka kita harus menyenangkan hati manusia. Prinsip ini akan melahirkan sikap profesional, prestatif, penuh perhatian terhadap pemecahan masalah-masalah manusia, dan terus menerus mengejar hal yang terbaik sampai menuju kesempurnaan. Karena hal yang demikian dianggap sebagai cerminan dari penghambaan (ibadah) manusia terhadap penciptanya.

 

Bila ekonom muslim akan menyusun teori dan proposisinya, maka hal yang harus menjadi pegangan adalah bahwa semua yang datang dari Allah dan Rasul-Nya pasti benar. Bila ada hal-hal yang tidak dapat dipahami oleh manusia dengan akalnya, maka menjadi tugas manusia untuk terus berusaha menemukan kebenaran tersebut dengan cara apapun.

 

 

 

 

d. Khilafah (Pemerintahan)

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi, artinya untuk menjadi pemimpin dan pemakmur bumi. Karena itu pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin. Nabi bersabda: "Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya". Ini berlaku bagi semua manusia, baik dia sebagai individu, kepala keluarga, pemimpin masyarakat atau kepala negara. Nilai ini mendasari prinsip kehidupan kolektif manusia dalam Islam (siapa memimpin siapa). Fungsi utamanya adalah agar menjaga keteraturan interaksi (mu’amalah) antar kelompok—termasuk dalam bidang ekonomi--agar kekacauan dan keributan dapat dihilangkan, atau dikurangi. Firman Allah swt dalam al-Qur’an: "(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka…menyuruh berbuat baik dan mencegah dari perbuatan jahat.

 

Dalam hadits lainnya Nabi bersabda: "Berakhlaqlah kalian seperti akhlaq Allah!" Akhlaq Allah diajarkan kepada manusia lewat al-asma al-husna-Nya (nama-namaNya yang terbaik). Jadi misalnya jika Allah bersifat al-Waliy (Maha Pemelihara), maka implikasi ekonomi dari berakhlaq seperti waliy adalah mengelola dan memelihara sumber daya dengan baik supaya bermanfaat bagi manusia generasi kini sampai generasi-generasi selanjutnya. Implikasi ekonomi dari berakhhlaq seperti al-Razzaaq (Maha Pemberi Rizki) adalah menjamin kecukupan hidup (kebutuhan dasar) bagi semua manusia. Implikasi dari al-Fattaah (Maha Pembuka): membuka kesempatan bekerja, menciptakan iklim bisnis yang sehat, membuka akses manusia terhadap ilmu untuk meningkatkan kualitas manusia. Implikasi dari al-Wahhaab (Maha Pemberi): membangun sistem jaminan sosial yang tangguh, pelayanan pendidikan dan kesehatan yang memadai bagi masyarakat. Implikasi sifat al-Malik al-Mulk (Maha Penguasa): menginvestasikan sumber daya secara bijak supaya membawa manfaat sebesar-besarnya bagi semua. Ini semua merupakan tugas dan tanggung jawab yang harus dipikul oleh negara/pemerintah.

 

Dalam Islam, pemerintah memainkan peranan yang kecil tetapi sangat penting dalam perekonomian. Peran utamanya adalah untuk menjamin perekonomian agar berjalan sesuai dengan syari’ah, dan untuk memastikan supaya tidak terjadi pelanggaran terhadap hak-hak manusia. Semua ini dalam kerangka mencapai maqashid al-syari’ah (tujuan-tujuan syari’ah), yang menurut Imam Al-Ghazaliy adalah untuk memajukan kesejahteraan manusia. Hal ini dicapai dengan melindungi keimanan, jiwa, akal, kehormatan dan kekayaan manusia.

 

e. Ma’ad (Hasil=Return)

Walaupun seringkali diterjemahkan sebagai "kebangkitan", tetapi secara harfiah ma’ad berarti "kembali". Karena kita semua akan kembali kepada Allah. Hidup manusia bukan hanya di dunia, tetapi terus berlanjut hingga alam setelah dunia (akhirat). Pandangan dunia yang khas dari seorang muslim tentang dunia dan akhirat dapat dirumuskan sebagai: "Dunia adalah ladang akhirat". Artinya, dunia adalah wahana bagi manusia untuk bekerja dan beraktifitas (beramal saleh). Namun demikian, akhirat lebih baik daripada dunia, karena itu Allah melarang kita untuk terikat pada dunia, sebab jika dibandingkan dengan kesenangan akhirat, kesenangan dunia tidaklah seberapa.

 

Allah menandaskan bahwa manusia diciptakan di dunia untuk berjuang. Perjuangan ini akan mendapatkan ganjaran, baik di dunia maupun di akhirat. Perbuatan baik dibalas dengan kebaikan yang berlipat-lipat, perbuatan jahat dibalas dengan hukuman yang setimpal. Karena itu, ma’ad diartikan juga sebagai imbalan/ganjaran. Implikasi nilai ini dalam kehidupan ekonomi dan bisnis misalnya, diformulasikan oleh Imam Al-Ghazaly yang menyatakan bahwa motivasi para pelaku bisnis adalah untuk mendapatkan laba. Laba dunia dan laba akhirat. Karena itu konsep profit mendapatkan legitimasi dalam Islam.

 

 

2. Prinsip-Prinsip Derivatif – Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Islam

 

Kelima nilai yang telah diuraikan di atas menjadi dasar inspirasi untuk menyusun teori-teori dan proposisi ekonomi islami. Seperti sudah dibicarakan di muka, dari kelima nilai ini kita dapat menurunkan tiga prinsip derivatif yang menjadi ciri-ciri sistem ekonomi islami. Prinsip derivatif tersebut uraiannya adalah sebagai berikut:

 

Multitype Ownership (Kepemilikan Multijenis)

Nilai tauhid dan nilai adil melahirkan konsep multitype ownership. Dalam sistem kapitalis, prinsip umum kepemilikan yang berlaku adalah kepemilikan swasta. Dalam sistem sosialis, kepemilikan negara. Sedangkan dalam Islam, berlaku prinsip kepemilikan multijenis, yakni mengakui bermacam-macam bentuk kepemilikan, baik oleh swasta, negara atau campuran.

 

Prinsip ini adalah terjemahan dari nilai tauhid: pemilik primer langit, bumi dan seisinya adalah Allah, sedangkan manusia diberi amanah untuk mengelolanya. Jadi manusia dianggap sebagai pemilik sekunder. Dengan demikian konsep kepemilikan swasta diakui. Namun untuk menjamin keadilan, yakni supaya tidak ada proses penzaliman segolongan orang terhadap segolongan yang lain, maka cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Dengan demikian, kepemilikan negara dan nasionalisasi juga diakui. Sistem kepemilikan campuran juga mendapat tempat dalam Islam, baik campuran swasta-negara, swasta domestik-asing, atau negara-asing. Semua konsep ini berasal dari filosofi, norma dan nilai-nilai Islam.

 

 

Freedom to act (Kebebasan Bertindak/Berusaha)

Ketika menjelaskan nilai nubuwwah, kita sudah sampai pada kesimpulan bahwa penerapan nilai ini akan melahirkan pribadi-pribadi yang profesional dan prestatif dalam segala bidang, termasuk bidang ekonomi dan bisnis. Pelaku-pelaku ekonomi dan bisnis menjadikan nabi sebagai teladan dan model dalam melakukan aktivitasnya. Sifat-sifat nabi yang dijadikan model tersebut terangkum ke dalam empat sifat utama, yakni siddiq, amanah, fathanah, dan tabligh. Sedapat mungkin setiap muslim harus dapat menyerap sifat-sifat ini agar menjadi bagian perilakunya sehari-hari dalam segala aspek kehidupan.

 

Keempat nilai-nilai nubuwwah ini bila digabungkan dengan nilai keadilan dan nilai khilafah (good governance) akan melahirkan prinsip freedom to act pada setiap muslim, khususnya pelaku bisnis dan ekonomi. Freedom to act bagi setiap individu akan menciptakan mekanisme pasar dalam perekonomian. Karena itu, mekanisme pasar adalah keharusan dalam Islam, dengan syarat tidak ada distorsi (proses penzaliman). Potensi distorsi dikurangi dengan penghayatan nilai keadilan. Penegakan nilai keadilan dalam ekonomi dilakukan dengan melarang semua mafsadah (segala yang merusak), riba (tambahan yang didapat secara zalim), gharar (uncertainty, ketidakpastian), dan maysir (perjudian, zero-sum game: orang mendapat keuntungan dengan merugikan orang lain). Negara bertugas menyingkirkan atau paling tidak mengurangi market distortion ini. Dengan demikian, negara/pemerintah bertindak sebagai wasit yang mengawasi interaksi (mu’amalah) pelaku-pelaku ekonomi dan bisnis dalam wilayah kekuasaannya untuk menjamin tidak dilanggarnya syari’ah, supaya tidak ada pihak-pihak yang zalim atau terzalimi, sehingga tercipta iklim ekonomi dan bisnis yang sehat.

 

Social Justice (Keadilan Sosial)

Gabungan nilai khilafah dan nilai ma’ad melahirkan prinsip keadilan sosial. Dalam Islam, pemerintah bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya dan menciptakan keseim-bangan sosial antara yang kaya dan yang miskin.

 

 

 

3. Akhlaq – Perilaku Islami dalam Perekonomian

Sekarang kita telah memiliki landasan teori yang kuat, serta prinsip-prinsip sistem ekonomi islami yang mantap. Namun dua hal ini belum cukup karena teori dan sistem menuntut adanya manusia yang menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam teori dan sistem tersebut. Dengan kata lain, harus ada manusia yang berperilaku, berakhlaq secara professional (ihsan, itqan) dalam bidang ekonomi. Baik dia itu dalam posisi sebagai produsen, konsumen, pengusaha, karyawan atau sebagai pejabat pemerintah. Karena teori yang unggul dan sistem sistem ekonomi yang sesuai syariah sama sekali bukan merupakan jaminan bahwa perekonomian umat Islam akan otomatis maju. Sistem ekonomi islami hanya memastikan bahwa tidak ada transaksi ekonomi yang bertentangan dengan syariah. Tetapi kinerja bisnis tergantung pada man behind the gun-nya. Karena itu pelaku ekonomi dalam kerangka ini dapat saja dipegang oleh umat non muslim. Perekonomian umat Islam baru dapat maju bila pola pikir dan pola laku muslimin dan muslimat sudah itqan (tekun) dan ihsan (profesional). Ini mungkin salah satu rahasia sabda Nabi saaw: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq". Karena akhlaq (perilaku) menjadi indikator baik-buruknya manusia. Baik buruknya perilaku bisnis para pengusaha menentukan sukses-gagalnya bisnis yang dijalankannya.

 

BAB III

ASUMSI RASIONALITAS

DALAM EKONOMI ISLAM

 

 

Yang dimaksud dengan asumsi rasionalitas adalah asumsi bahwa manusia berperilaku secara rasional (masuk akal), dan tidak akan secara sengaja membuat keputusan yang akan menjadikan mereka lebih buruk.

 

A. ASUMSI RASIONALITAS

1. Jenis Rasionalitas

 

Ada dua jenis rasionalitas, yakni:

 

Self interest rationality (Rasionalitas Kepentingan Pribadi)

Prinsip pertama dalam ilmu ekonomi menurut Edgeworth, adalah bahwa setiap pihak digerakkan hanya oleh self interest. Hal ini mungkin saja benar pada masa-masa Edgeworth, tapi salah satu pencapaian dari teori utilitas modern adalah pembebasan ilmu ekonomi dari prinsip pertama yang meragukan tersebut.

 

Definisi Self Interest

Self interest tidak harus selalu berarti memperbanyak kekayaan seseorang dalam satuan rupiah tertentu. Kita berasumsi bahwa individu mengejar berbagai tujuan, bukan hanya memperbanyak kekayaan secara moneter. Dengan demikian self interest sekurang-kurangnya mencakup tujuan-tujuan yang berhubungan dengan prestise, persahabatan, cinta, kekuasaan, menolong sesama, penciptaan karya seni, dan banyak lagi. Kita dapat juga mempertimbangkan self interest yang tercerahkan, di mana individu-individu dalam rangka untuk mencapai sesuatu yang menjadikan mereka lebih baik, pada saat yang sama membuat orang-orang di sekelilingnya menjadi lebih baik pula.

 

Present-aim rationality

Teori utilitas modern yang aksiomatis tidak berasumsi bahwa manusia bersikap mementingkan kepentingan pribadinya (self interested). Teori ini hanya berasumsi bahwa manusia menyesuaikan preferensinya dengan sejumlah aksioma: secara kasarnya preferensi-preferensi tersebut harus konsisten. Individu-individu menyesuaikan dirinya dengan aksioma-aksioma ini tanpa harus menjadi self interested.

 

 

Aksioma-Aksioma Pilihan Rasional

 

Terdapat tiga sifat dasar:

 

Kelengkapan (Completeness)

Jika individu dihadapkan pada dua situasi, A dan B, maka ia dapat selalu menentukan secara pasti salah satu dari tiga kemungkinan berikut ini:

A lebih disukai daripada B

B lebih disukai daripada A

A dan B keduanya sama-sama disukai.

 

Transitivitas (Transitivity)

Jika bagi seseorang "A lebih disukai dari pada B" dan "B lebih disukai dari pada C", maka baginya "A harus lebih disukai dari pada C". Asumsi ini menyatakan bahwa pilihan individu bersifat konsisten secara internal.

 

Kontinuitas (Continuity)

Jika bagi seseorang "A lebih disukai dari pada B",maka situasi-situasi yang secara cocok "mendekati A", harus juga lebih disukai dari pada B.

 

 

Asumsi-Asumsi Lainnya Tentang Preferensi

 

Kemonotonan Yang Kuat (Strong Monotonicity)

Bahwa lebih banyak berarti lebih baik. Biasanya kita tidak memerlukan asumsi sekuat ini. Asumsi ini dapat diganti dengan yang lebih lemah yakni Local Nonsatiation.

 

Local Nonsatiation

Asumsi ini menyatakan bahwa seseorang dapat selalu berbuat lebih baik, sekecil apapun, bahkan bila ia hanya menikmati sedikit perubahan saja dalam "keranjang konsumsinya".

 

Konveksitas Ketat (Strict Convexity)

Asumsi ini menyatakan bahwa seseorang lebih menyukai yang rata-rata dari pada yang ekstrim, tapi selain dari pada makna ini, asumsi ini memiliki muatan ekonomis yang kecil. Strict convexity merupakan generalisasi dari asumsi neoklasik tentang "diminishing marginal rates of substitution".

 

 

B. Perspektif Islam Tentang Asumsi Rasionalitas

 

 

Perluasan Konsep Rasionalitas (untuk Transitivitas)

 

Pertama-tama, kita berpendapat bahwa self interest rationality yang diperkenalkan oleh Edgeworth adalah konsep yang lebih baik dalam artian kita berasumsi bahwa individu mengejar banyak tujuan, bukan hanya memperbanyak kekayaan secara moneter. Sayangnya konsep ini terlalu longgar sehingga tindakan apapun dari seseorang dapat dijustifikasi sebagai rasional hanya karena ia mengklaim bahwa tindakannya didorong oleh self interest-nya.

 

Kedua, kita berpendapat bahwa teori modern tentang keputusan rasional tidak disepakati secara universal. Versi yang berbeda memiliki aksioma yang berbeda. Tapi kesemuanya sekurang-kurangnya menyepakati aksioma transitivitas. Transitivitas adalah syarat minimal konsistensi; jika konsistensi tidak mensyaratkan transitivitas, maka sesungguhnya ia tidak mensyaratkan apapun. Sebenarnya tidak semua aksioma teori keputusan rasional merupakan syarat dari konsistensi. Contohnya, salah satu aksioma adalah kelengkapan: terhadap pasangan alternatif apapun dari A dan B, kita dapat memilih A dari pada B, B dari pada A, atau sama saja antara A dan B. Hal ini tidak dipersyaratkan oleh konsistensi.

 

Dalam nilai Islam terdapat dua cara untuk mendistribusikan pendapatan. Iuran wajib (zakat), dan iuran sukarela (infaq). Dalam kebanyakan kasus, sektor sukarela tidak dapat secara mutlak dijelaskan bahwa tindakan sukarela ini memenuhi persyaratan transitivitas. Jika pekerjaan dengan gaji Rp5 juta lebih disukai daripada pekerjaan dengan gaji Rp3 juta, dan jika pekerjaan dengan gaji Rp3 juta lebih disukai dari pada pekerjaan dengan gaji Rp500 ribu, apakah masuk akal jika pekerjaan dengan gaji Rp.500 ribu (atau bahkan kurang dari itu, atau tak bergaji sama sekali) lebih disukai dari pada pekerjaan dengan gaji Rp. 5 juta? Menurut aksioma transitivitas, hal ini dianggap tidak masuk akal/rasional karena tidak konsisten. Merupakan pertanyaan yang menarik bagaimana keputusan yang tidak rasional ini dapat dijelaskan sebagai "rasional". Lagi pula, menjadi sangat menarik untuk disimak bagai mana rasionalitas ini dijelaskan berdasarkan aksioma transitivitas, bukan berdasarkan self interest rationality.

 

 

Persyaratan Transitivitas

Andaikan seseorang dihadapkan pada pilihan antara A dan B, ia memilih A. Bila dihadapkan pada pilihan B dan C, ia memilih B. Dihadapkan pada pilihan antara C dan A, ia memilih C. Pilihan ini kelihatannya intransitif karena kita melihat bahwa ia hanya memiliki tiga alternatif, yakni A, B, dan C. Tapi marilah kita rinci alternatif ini dengan lebih cantik. Mari kita rumuskan alternatifnya sebagai berikut:

 

 

Simbol

Alternatif

Ab

Memilih A jika B merupakan satu-satunya alternatif yang ada.

Ba

Memilih B jika A merupakan satu-satunya alternatif yang ada

Bc

Memilih B jika C merupakan satu-satunya alternatif yang ada

Cb

Memilih C jika B merupakan satu-satunya alternatif yang ada

Ca

Memilih C jika A merupakan satu-satunya alternatif yang ada

Ac

Memilih A jika C merupakan satu-satunya alternatif yang ada

 

Maka orang ini memilih Ab dari pada Ba, Bc dari pada Cb, dan Ca dari pada Ac. Dalam hal ini tidak terdapat intransitivitas. Perhatikan bahwa Ca bukan Cb.

 

Sekilas awal kelihatannya pilihan tersebut intransitif, karena kita hanya melihat tiga pilihan:

1. A

2. B

3. C

 

Tapi untuk orang ini, ia melihat empat pilihan :

Ab

Bc

Cb

Ca

 

Mari kita ambil contoh lain. Katakanlah Barri mempertimbangkan 3 gadis untuk dijadikan sebagai istrinya. Bagi Barri, akhlaq dan kecantikan merupakan faktor yang menentukan. Secara spesifik, Barri merumuskan preferensinya sebagai berikut :

Jika perbedaan akhlaq tidak signifikan, yakni < 2, maka kecantikan merupakan faktor yang menentukan.

Jika perbedaan akhlaq signifikan, yakni > 2, maka akhlaq merupakan faktor yang menentukan.

 

Menurut evaluasi Barri, skor untuk gadis-gadis tersebut adalah sebagai berikut:

 

 

Nama

Kecantikan

Akhlaq

Gadis A

9

5

Gadis B

8

6

Gadis C

7

7

 

 

Kemudian Barri membuat alternatifnya :

 

 

Pilihan antara

Perbedaan Akhlaq

Faktor Penentu

Pilihan Barri

Preferensi

Gadis A & B

1

Kecantikan

Gadis A

A daripada B

Gadis B & C

1

Kecantikan

Gadis B

B daripada C

Gadis C & A

2

Akhlaq

Gadis C

C daripada A

 

 

Lagi-lagi, walaupun Barri lebih menyukai C dari pada A, kita tidak dapat menyatakan bahwa Barri tidak rasional dalam pengertian bahwa ia tidak konsisten. Barri rasional, konsisten dan tidak terdapat intransitivitas dalam keputusannya. Barri tidak hanya melihat tiga pilihan, gadis A, B, dan C. Baginya, pilihannya adalah :

Gadis A, jika B merupakan alternatif satu-satunya (Ab lebih disukai dari pada Ba)

Gadis B, jika C merupakan alternatif satu-satunya (Bc lebih disukai dari pada Cb)

Gadis C, jika A merupakan alternatif satu-satunya (Ca lebih disukai dari pada Ac)

 

Lagi-lagi perhatikan bahwa Ca bukan Cb.

 

 

Utilitas dan Infak (Sedekah)

Kini mari kita berlanjut pada utilitas Farhan yang merasa lebih baik jika ia membelanjakan uangnya untuk infak (sedekah). Mari kita mendefinisikan fungsi utilitasnya sebagai Uf = U(Mf,Mz), di mana:

Uf = utilitas Farhan

Mf= uang yang dimiliki oleh Farhan

Mz= uang yang dimiliki oleh Zahid

 

Slope kurva utilitas Farhan negatif karena menurut Farhan, infak adalah hal yang baik. Slope negatif juga berarti bahwa Farhan mengurangi pendapatannya agar pendapatan Zahid bertambah. Berapa jumlah pendapatan yang bersedia diserahkan oleh Farhan tergantung pada budget line. Titik A adalah solusi optimal untuk Farhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.1. Hubungan Utility dan Infak

Menurut Farhan, infak adalah hal yang baik sehingga Farhan bersedia mengeluarkan uangnya sebagai infak sehingga Zahid mendapatkan tambahan pendapatan sebesar yang diberikan oleh Farhan. Besarnya pendapatan ini ditentukan oleh kemiringan budget line.

 

 

 

 

Perluasan Spektrum Utilitas (untuk Strong Monotonicity & Local Nonsatiation)

 

Dalam perspektif Islam, lebih banyak tidak selalu berarti lebih baik. Asumsi "lebih banyak lebih baik" hanya benar jika kita harus memilih antara X halal dan Y halal. Tidak benar jika kita harus memilih antara X halal dan Y haram, atau X haram dan Y halal, atau X haram dan Y haram. Nilai Islam tentang halal dan haram membuat kita harus memperluas spektrum utilitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.2. Strong Monotonicity

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.3. Spektrum yang Diperluas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kini, kita dapat menggambarkan 4 tipe fungsi utilitas:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.4. Tipe Fungsi Utilitas

 

 

 

 

 

Tipe X

Tipe Y

Solusi Optimal

X Halal

Y Halal

Pada MRS = slope budget line

X Halal

Y Haram

Solusi sudut pada Y = 0

X Haram

Y Halal

Solusi sudut pada X = 0

X Haram

Y Haram

Pada titik origin (0, 0)

 

 

 

Melonggarkan Persyaratan Kontinuitas (untuk Kontinuitas)

 

Mari kita asumsikan bahwa permintaan Y haram dalam keadaan darurat. Anda dapat membayangkan permintaan terhadap daging babi jika tidak ada makanan lain yang tersedia. Permintaan terhadap babi ini bukan merupakan permintaan yang kontinu, melainkan diskrit. Karena itu, permintaannya adalah permintaan titik (point demand). Berapapun harga daging babi pada saat itu, permintaannya Qp, yakni sejumlah tertentu daging babi untuk memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup. Untuk rincian lebih lanjut, lihat Karim.

 

 

Perluasan Horison Waktu

 

Perspektif Islam tentang waktu tidak dibatasi hanya pada masa kini. Islam memandang waktu sebagai horison. Karena itu, analisis statis sebagaimana dikenal oleh ekonom-ekonom klasik tidak memadai untuk menerangkan perilaku ekonomi dalam perspektif Islam.

 

Dalam perspektif Islam, waktu sangat penting dan sangat bernilai. Nilai waktu tergantung pada bagaimana seseorang memanfaatkan waktunya. Semakin produktif seseorang memanfaatkan waktunya, semakin banyak nilai yang diperolehnya Bagi setiap orang, sehari adalah 24 jam, tapi nilai waktunya akan berbeda-beda. Tentu saja, kita dapat mengukur nilai ini secara moneter.

 

Ide ini justru merupakan kebalikan dari konsep nilai waktu uang (time value of money). Dalam Islam waktulah yang bernilai, sementara uang tidak memiliki nilai waktu. Haruskah barang-barang di masa depan didiskon? Ya. Ekonom secara khas mendiskon beragam barang-barang yang dibeli dan dijual di pasar, yang disebut komoditas. Islam tidak keberatan mengenai hal ini. Namun adalah benar pula bahwa kadangkala ekonom melangkah lebih jauh dalam mendiskonto. Mereka mendiskonto ketika seharusnya mereka tidak melakukannya.

 

 

Komoditas yang seharusnya tidak didiskon

 

Keberatan pertama bukan ditujukan kepada teori metode harga pasar, tetapi ditujukan pada cara-cara penerapan metode tersebut dalam praktek. Menurut teori tersebut, setiap komoditi seharusnya didiskon pada tingkat diskonto masing-masing komoditasnya. Tetapi dalam prakteknya semua komoditas secara umum dikumpulkan kemudian didiskon pada tingkat yang sama. Biasanya, semua komoditas didiskon pada tingkat yang disebut sebagai tingkat bunga "riil", yang merupakan rerata tertimbang dari masing-masing tingkat bunga dari berbagai komoditas (weighted average of the own interest rates of various commodities).

Pikirkanlah tentang sumber daya langka yang tidak dapat direproduksi, yang sama sekali tidak dapat diproduksi. Sumber daya langka tidak dapat diubah menjadi sumber daya masa depan dalam jumlah yang lebih besar, dan karenanya sumber-sumber daya ini memiliki tingkat diskon tersendiri sebesar 0 atau sekitarnya. Ekonom lainnya, Derek Parfits, yakin bahwa kesejahteraan seharusnya tidak didiskon. John Broome berkesimpulan bahwa penyelamatan jiwa juga seharusnya tidak didiskon.

 

Keberatan kedua adalah bahwa pada banyak proyek, sebagian besar dari pihak yang berkepentingan tidak terwakili dalam pasar. Banyak proyek yang akan berdampak pada generasi mendatang pada abad-abad atau milenium ke depan. Ahli-ahli ekonomi menganjurkan beberapa komoditas yang seharusnya tidak didiskon. Uang bukanlah komoditas. Lalu apa yang dapat kita katakan bila uang didiskon?

 

Time value of money mengatakan bahwa $1 hari ini mempunyai nilai yang lebih besar dari pada $1 besok karena $1 hari ini dapat diinvestasikan untuk mendapatkan return yang positif. Di sinilah letak kesalahannya. Investasi selalu memiliki dua kemungkinan: untung atau rugi. Karenanya return dapat saja positif, dapat pula negatif. Maka mengapa rumusnya menjadi FV = PV (1 + r)n ? Bukankah ini hanya merupakan bentuk lain dari rumus pertumbuhan penduduk Pt = Po (1 + g)t yang diadopsi ke dalam ilmu ekonomi?

 

 

Kasus

Ketika membahas bagian Perluasan Spektrum Utilitas, kita menyatakan bahwa dalam Islam, asumsi "lebih banyak lebih baik" hanya benar jika kita harus memilih antara X halal dan Y halal. Bayangkan kasus berikut Dalam Islam, beristri satu adalah halal, dan beristri lebih dari satu adalah halal juga. Apakah prinsip "lebih banyak lebih baik" berlaku dalam hal ini, mengingat kedua alternatif tersebut sama-sama halal? Apakah beristri lebih dari satu lebih baik dari pada beristri satu? Bagaimana masalah ini dapat dijelaskan dengan asumsi rasionalitas ? Diskusikanlah !

 

 

 

 

 

BAB IV

Teori Permintaan Islami

 

 

 

A. Fungsi Utility

 

Dalam ilmu ekonomi tingkat kepuasan (utility function) digambarkan oleh kurva indifference (indifference curve). Biasanya yang digambarkan adalah utility function antara dua barang (atau jasa) yang keduanya memang disukai oleh konsumen.

 

Dalam membangun teori utility function, digunakan tiga aksioma pilihan rasional :

Completeness

Aksioma ini mengatakan bahwa setiap individu selalu dapat menentukan keadaan mana yang lebih disukainya diantara dua keadaan. Bila A dan B adalah dua keadaan yang berbeda, maka individu selalu dapat menentukan secara tepat satu diantara tiga kemungkinan ini:

A lebih disukai daripada B

B lebih disukai daripada A

A dan B sama menariknya

 

Transitivity

Aksioma ini menjelaskan bahwa jika seorang individu mengatakan "A lebih disukai daripada B", dan "B lebih disukai daripda C", maka ia pasti akan mengatakan bahwa "A lebih disukai daripada C". Aksioma ini sebenarnya untuk memastikan adanya konsistensi internal di dalam diri individu dalam mengambil keputusan.

 

Continuity

Aksioma ini menjelaskan bahwa jika seorang individu mengatakan "A lebih disukai daripada B", maka keadaan yang mendekati A pasti juga lebih disukai daripada B.

 

Utility map untuk dua barang inilah yang digambarkan dengan grafik dua dimensi dengan sumbu X sebagai barang yang disukai dan sumbu Y sebagai barang lain yang juga disukai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·

·

·

·

·

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Semua kombinasi titik pada kurva indifference yang sama memiliki tingkat kepuasan yang sama. Gambar 1. menunjukkan bahwa titik A, B, dan C memberikan tingkat kepuasan yang sama yaitu pada U1, sedangkan titik D dan E memberikan kepuasan yang sama yaitu pada U2.

 

 

 

Tabel 4.1. Kombinasi Konsumsi Barang X dan Barang Y

Kombinasi

Jumlah Barang X

Jumlah Barang Y

A

2 unit

3 unit

B

3 unit

2 unit

C

5 unit

1 unit

D

3 unit

5 unit

E

4 unit

4 unit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kombinasi titik yang berada pada kurva indifference yang sama memberikan tingkat kepuasan yang sama. Dari Gambar 1. dapat diketahui bahwa titik A, B, dan C memberikan tingkat kepuasan yang sama, sedangkan titik D dan E memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

 

Kurva Indifference tidak boleh berpotongan. Jika kurva tersebut berpotongan berarti terjadi pelanggaran terhadap aksioma utility, yaitu tidak adanya konsistensi. Sebagai contoh, perhatikan gambar di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kombinasi titik S, Q, dan R memberikan tingkat kepuasan yang sama yaitu pada kurva indifference U1. Kombinasi pada titik P, Q, dan T memberikan tingkat kepuasan yang sama yaitu pada kurva indifference U2. Dari kedua pernyataan di atas terlihat bahwa titik Q berada pada kurva indifference U1 dan U2, yang berarti tidak adanya konsistensi tingkat kepuasan pada titik Q, yang berarti pulah telah melanggar aksioma ke-2 dari utility.

 

B. Increasing Utility

 

Semakin tinggi indifference curve berarti semakin banyak barang yang dapat dikonsumsi, yang berarti semakin tinggi tingkat kepuasan konsumen. Secara grafis tingkat utilitas yang lebih tinggi digambarkan dengan utility function yang letaknya disebelah kanan atas. Bagi konsumen, semakin ke kanan atas utility function semakin baik. Bentuk utility function yang convex (cembung terhadap titik 0) menunjukkan adanya diminishing marginal rate of substitution. Bahasa mudahnya, kepuasan yang didapat dari mengkonsumsi piring pertama soto ayam lebih tinggi daripada kepuasan mengkonsumsi soto ayam piring kedua, ketiga, dan seterusnya.

 

Dalam Islam cara pikir ini juga ditemukan. Rasulullah saw bersabda, "Orang beriman yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada orang beriman yang lemah" . Dalam hadist lain bermakna, "Iri hati itu dilarang kecuali terhadap dua jenis orang: yaitu orang berilmu yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya, dan orang yang kaya yang membelanjakan hartanya di jalan Allah". Jadi dalam konsep Islam pun diakui bahwa yang lebih banyak (tentunya yang halal) lebih baik. Secara grafis utility function antara dua barang (atau jasa) yang halal digambarkan sebagaimana lazimnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam konsep Islam sangat penting adanya pembagian jenis barang (atau jasa) antara yang haram dan yang halal. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk menggambarkan hal ini dalam utility function. Utility function untuk dua barang yang salah satunya tidak disukai digambarkan dengan utility function yang terbalik seakan diletakkan cermin. Semakin sedikit barang yang tidak kita sukai akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Hal ini digambarkan dengan utility function yang semakin ke kiri atas semakin tinggi tingkat kepuasannya. Barang yang haram adalah barang yang tidak kita sukai. Secara garafis, kita gambarkan sumbu X sebagai barang haram, dan sumbu Y sebagai barang halal. Dalam grafik ini, pergerakan utility function ke kiri atas menunjukkan semakin banyak barang halal yang dikonsumsi dan semakin sedikit barang haram yang dikonsumsi. Semakin banyak barang yang halal berarti menambah utulity sedangkan semakin sedikit barang yang haram berarti mengurangi dis-utility. Keadaan ini akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bila letak barang yang haram dan yang halal ini dirubah maka bentuk utility function pun akan berubah. Bila sumbu X menunjukkan barang halal, sedangkan sumbu Y menunjukkan barang haram, maka bentuk utility function berbalik 180’ dari terbuka menghadap ke kiri atas menjadi telungkup menghadap ke kanan bawah. Dalam grafik ini, pergerakan utility function ke kanan bawah menunjukkan semakin banyak barang halal yang dikonsumsi dan semakin sedikit barang haram yang dikonsumsi. Semakin banyak barang yang halal berarti menambah utility sedangkan semakin sedikit barang yang haram berarti mengurangi disutility. Keadaan ini akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

 

C. Budget Constraint

Keingingan untuk memaksimalkan utility function tentu ada batasnya yaitu berapa dana yang tersedia untuk membeli kedua jenis barang tersebut. Batasan ini disebut budget constraint. Secara matematis ditulis:

 

I = Px X + Py Y

 

Dari persamaan di atas dapat diketahui kombinasi jumlah barang X dan barang Y yang dapat dikonsumsi. Dalam angka dapat digambarkan lebih jelas dengan tabel berikut ini. Katakanlah harga barang X adalah $1 per unit dan harga barang Y adalah $2 per unit:

 

 

 

Tabel 4.2. Biaya Kombinasi Konsumsi Barang X

dan Barang Y

 

 

Kombinasi barang

Jumlah Barang X yang dikonsumsi

Jumlah barang Y yang dikonsumsi

Pengeluaran total

A

0

40

$80

B

20

30

$80

C

40

20

$80

D

60

10

$80

E

80

0

$80

 

 

 

Tabel di atas menunjukkan kombinasi jumlah barang X dan jumlah barang Y yang dapat dikonsumsi, atau kombinasinya yang dapat dibeli dengan uang sejumlah $ 80. Garis yang menghubungakan titik A, B, C, D, dan E disebut dengan budget line.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kombinasi titik dibawah budget line menunjukkan jumlah dana yang digunakan untuk mengkonsumsi barang X dan barang Y dan jumlah dana yang digunakan tersebut lebih kecil daripada jumlah dana yang tersedia (daerah yang diarsir).

 

 

 

D. Tingkat Penggantian Barang (Marginal Rate of Substitution)

 

Dari harga X dan harga Y dapat diketahui slope dari budget line. Dengan harga X $ 1 dan harga Y $ 2, berarti slope budget line [– (Px/Py)] adalah [–(1/2)]. Kemiringan kurva (slope) merupakan tingkat penggantian barang X terhadap barang Y.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar di atas juga menunjukkan tingkat penggantian barang (MRS) dimana untuk memperoleh tambahan 10 unit barang Y, maka harus dikorbankan 20 unit barang X, sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat penggantian barang (MRS) adalah sebesar [- Qy/ Qx] atau [–10/20].

 

 

 

E. Optimal Solution

 

Kepuasan maksimum terjadi pada titik dimana terjadi persinggungan antara kurva indifference dengan budget line. Konsumen akan memaksimalkan pilihannya dengan dua cara:

 

 

Memaksimalkan utility function pada budget line tertentu

 

 

Tabel 4.3. Maksimalisasi Utility Function pada Budget Tertentu

 

Kombinasi barang

Jumlah Barang X yang dikonsumsi

Jumlah barang Y yang dikonsumsi

Pengeluaran total

B

20

30

$80

R

20

20

$60

S

10

30

$70

 

 

 

Dengan tingkat pengeluaran tertentu yaitu $80, maka kombinasi barang B lebih baik daripada kombinasi R dan S. Kombinasi B lebih baik daripada R karena dapat mengkonsumsi barang Y lebih banyak; dari segi total pengeluaran pun terlihat bahwa masih ada yang tidak termanfaatkan sebesar $20. Kombinasi B lebih baik daripada kombinasi S karena dapat mengkonsumsi barang X lebih banyak; dari segi total pengeluaran pun terlihat bahwa masih ada yang tidak termanfaatkan sebesar $10.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meminimalkan budget line pada utility function tertentu

 

 

 

Tabel 4.4. Minimalisasi Budget Line pada Utility Function Tertentu

 

 

Kombinasi barang

Jumlah Barang X yang dikonsumsi

Jumlah barang Y yang dikonsumsi

Pengeluaran total

B

20

30

$80

T

20

30

$90

 

 

 

 

Untuk mengkonsumsi 20X dan 30Y cukup diperlukan uang $80. Oleh karenanya kombinasi B lebih baik daripada kombinasi T, karena untuk mendapatkan T ia harus membayar lebih mahal untuk jumlah barang yang sama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

F. Corner Solution untuk pilihan Halal-Haram

 

Pilihan antara barang halal dan barang haram dapat digambarkan dengan utility function yang mangkuknya terbuka ke arah kiri atas, bila kita gambarkan sumbu X sebagai barang haram, dan sumbu Y sebagai barang halal, seperti pada Gambar 2. Dalam Gambar 2 ini, pergerakan utility function ke kiri atas menunjukkan semakin banyak barang halal yang dikonsumsi dan semakin sedikit barang haram yang dikonsumsi. Semakin banyak barang yang halal berarti menambah utulity sedangkan semakin sedikit barang yang haram berarti mengurangi dis-utility. Keadaan ini akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

 

Bentuk utility function yang demikian tidak memungkinkan terjadinya persinggungan (tangency) antara utility function dengan budget line. Keadaan ini terjadi karena Marginal Rate of Substitution (MRS) untuk barang halal selalu lebih kecil dibandingkan slope budget line, maka pilihan optimal bagi konsumen adalah mengalokasikan seluruh income nya untuk membeli barang halal. Jadi berbeda dengan bentuk indifference curve barang halal-halal yang convex dan slope nya negatif yaitu turun dari kiri atas ke kanan bawah. Sedangkan indifference curve barang halal-haram dengan sumbu X sebagai barang haram dan sumbu Y sebagai barang halal, bentuknya convex dan slope nya positif yaitu naik dari kiri bawah ke kanan atas.

Konsumen meningkatkan utilitynya dengan terus mengurangi konsumsi barang haram untuk mendapatkan lebih banyak barang halal, sampai pada titik dimana ia tidak dapat lagi melakukannya yaitu pada saat seluruh income nya habis digunakan untuk membeli barang halal. Ini yang disebut corner solution.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Corner solution dapat juga terjadi pada pilihan barang halal X dan barang halal Y, jika MRS barang-barang halal tersebut selalu lebih kecil atau selalu lebih besar dibandingkan slope budget line nya. Misalnya, corner solution terjadi untuk barang yang perfect substitution. Bentuk utility function untuk dua barang yang perfect substitution adalah berupa garis lurus, sehingga tidak ada kemungkinan terjadi persinggungan (tangency) dengan budget line. Untuk kasus perfect substitutions, diminishing rates of MRS tidak terpenuhi. Bila slope utility function lebih curam dibandingkan slope budget line nya, maka corner solution akan terjadi pada garis sumbu horizontal X. Sedangkan bila slope utility function lebih landai dibandingkan slope budget line nya, maka corner solution akan terjadi pada garis sumbu vertikal Y.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Corner solution tidak hanya terjadi pada keadaan halal-haram atau perfect substitution saja, ia juga dapat terjadi pada indifference curve yang "not strongly convex". Secara grafis hal ini digambarkan dengan bentuk kurva convex yang kecembungannya begitu tipis sehingga hampir menyerupai garis lurus. Jadi dalam hal ini diminishing rates of MRS terpenuhi yaitu utulity function yang berbentuk convex dari kiri atas ke kanan bawah. Namun karena slope nya dimulai di kiri atas dengan slope yang lebih kecil dari slope budget line nya, maka kedua slope itu tidak pernah bersinggungan.

 

G. Kurva Permintaan Barang Halal

Kurva permintaan diturunkan dari titik-titik persinggungan antara indifference curve dengan budget line. Katakanlah seorang konsumen mempunyai pendapatan I = Rp 1 juta per bulan, dan menghadapi pilihan untuk mengkonsumsi barang X dan barang Y yang keduanya adalah barang halal. Katakan pula harga barang X Px = Rp 100 ribu, dan harga barang Y Py = Rp 200 ribu. Titik A, A’, A" menunjukkan konsumsi seluruhnya dialokasikan pada barang X, dan titik B menunjukkan konsumsi seluruhnya dialokasikan pada barang Y.

Dengan data ini, kita dapat membuat budget line dengan menarik garis lurus diantara dua titik:

 

Kombinasi

Income

Px

Py

X = I/Px

Y= I/Py

X at tangency

A

1.000.000

100.000

200.000

10

0

3

B

1.000.000

100.000

200.000

0

5

3

 

Bila terjadi penurunan harga X menjadi Px = Rp 50 ribu, maka kaki budget line pada sumbu X akan bertambah panjang. Titik perpotongan sumbu Y tidak berubah, sedangkan titik perpotongan dengan sumbu X berubah.

Kombinasi

Income

Px

Py

X = I/Px

Y = I/Py

X at tangency

A’

1.000.000

50.000

200.000

20

0

4

B

1.000.000

50.000

200.000

0

5

4

 

 

 

 

Bila harga X menjadi Px = Rp 25 ribu, maka kaki budget line pada sumbu X akan semakin panjang. Titik perpotongan sumbu Y tidak berubah, sedangkan titik perpotongan dengan sumbu X berubah.

 

Kombinasi

Income

Px

Py

X = I/Px

Y = I/Py

X at tangency

A"

1.000.000

25.000

200.000

40

0

5

B

1.000.000

25.000

200.000

0

5

5

 

 

 

 

 

 

Dengan simulasi harga barang X, kita sekarang mendapatkan kurva yang menggambarkan antara harga dengan jumlah barang X yang diminta.

 

 

Harga X

Jumlah X (X pada saat tangency/atau jumlah optimal X)

100.000

3

50.000

4

25.000

5

 

Semakin tinggi harga, semakin sedikit jumlah barang yang diminta. Dengan demikian kita mendapatkan slope kurva permintaan yang negatif untuk barang halal, sebagaimana lazimnya kurva permintaan yang dipelajari dalam ekonomi konvensional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.13. Deriving Demand Curve, Barang X dan Y adalah Halal

Barang X dan barang Y adalah barang halal. Apabila terjadi perubahan harga barang X (Px), dimana Px1 < Px2 < Px3, dan income tetap, maka (I/Px1) < (I/Px2) < (I/Px3), sehingga Qx1 < Qx2 < Qx3.

 

 

 

H. Kurva Permintaan Barang Halal dalam Pilihan Halal-Haram

 

Dalam hal pilihan yang dihadapi adalah antara barang halal dan barang haram, maka optimal solutionnya adalah corner solution. Katakanlah seorang konsumen mempunyai pendapatan I = Rp 1 juta per bulan, dan menghadapi pilihan untuk mengkonsumsi barang halal X dan barang haram Y. Katakan pula harga barang X Px = Rp 100 ribu, dan harga barang Y Py = Rp 200 ribu. Titik A, A’, A" menunjukkan konsumsi seluruhnya dialokasikan pada barang X, dan titik B menunjukkan konsumsi seluruhnya dialokasikan pada barang Y. Simulasi penurunan harga juga dilakukan dari Rp100 ribu ke tingkat Px = Rp 50 ribu dan Px = Rp 25 ribu :

 

 

Px = Rp 100 ribu

 

Kombinasi

Income

Px (X halal)

Py (Y haram)

X = I/Px

Y= I/Py

X at corner solution

A

1.000.000

100.000

200.000

10

0

10

B

1.000.000

100.000

200.000

0

5

10

 

 

Px = Rp 50 ribu

 

Kombinasi

Income

Px

(X halal)

Py

(Y haram)

X = I/Px

Y = I/Py

X at corner solution

A’

1.000.000

50.000

200.000

20

0

20

B

1.000.000

50.000

200.000

0

5

20

 

 

Px = Rp 25 ribu

 

Kombinasi

Income

Px (X halal)

Py

(Y haram)

X = I/Px

Y = I/Py

X at corner solution

A"

1.000.000

25.000

200.000

40

0

40

B

1.000.000

25.000

200.000

0

5

40

 

 

Dengan simulasi harga barang X, kita sekarang mendapatkan kurva yang menggambarkan antara harga dengan jumlah barang X yang diminta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.14. Deriving Demand Curve, Barang X Halal dan Barang Y adalah Haram

Apabila terjadi perubahan pada harga barang X dimana Px3 > Px2 > Px1 dan income tetap, maka: (I/Px3) < (I/Px2) < (I/Px1), sehingga Qx3 < Qx2 < Qx1.

 

 

 

 

 

Pilihan halal X & haram Y

 

Pilihan halal X & halal Y

Harga X

Jumlah X (X pada corner solution /atau jumlah optimal X)

Harga X

Jumlah X (X pada saat tangency/atau jumlah optimal X)

100.000

10

100.000

3

50.000

20

50.000

4

25.000

40

25.000

5

 

 

Semakin tinggi harga, semakin sedikit jumlah barang yang diminta. Dengan demikian kita juga mendapatkan slope kurva permintaan yang negatif untuk barang halal dalam pilihan halal X dan haram Y. Perbedaannya terletak pada kecuraman kurva atau dalam istilah ekonominya pada elastisitas harga. Penurunan harga dari Rp 100 ribu ke Rp 50 ribu meningkatkan permintaan barang X dari 10 ke 20 (bandingkan dengan pilihan halal X – halal Y yang hanya dari 3 ke 4), penurunan dari Rp 50 ribu ke Rp 25 ribu meningkatkan permintaan barang X dari 20 ke 40 (bandingkan dengan pilihan halal X – halal Y yang hanya naik dari 4 ke 5).

 

 

I. Keadaan Darurat Tidak Optimal

Dalam konsep Islam, yang haram telah jelas dan begitu pula yang halal telah jelas. Secara logika ekonomi kita telah menjelaskan bahwa bila kita dihdapkan kepada dua pilihan yaitu barang halal dan barang haram, optimal solution adalah corner solution yaitu mengalokasikan seluruh pendapatan kita untuk mengkonsumsi barang halal. Tindakan mengkonsumsi barang haram berarti meningkatkan dis-utility, sebaliknya tindakan mengurangi konsumsi barang haram berarti mengurangi dis-utility. Corner solution merupakan optimal solution karena mengkonsumsi barang haram sejumlah nihil berarti menghilangkan dis-utility, selain itu mengalokasikan seluruh pendapatan untuk mengkonsumsi barang halal berarti meningkatkan utility.

 

Sekarang bayangkanlah keadaan hipotetis yang diambil dari kisah nyata di tahun 1970 an. Sebuah pesawat terbang yang penuh penumpang jatuh di tengah gunung salju. Setelah bertahan beberapa hari tanpa persediaan makanan yang cukup, tidak adanya hewan atau tumbuhan yang dapat dimakan, dan dinginnya cuaca, beberapa diantara penumpang meninggal. Bagi mereka yang hidup pilihannya tidak banyak, yaitu terus bertahan sambil mengharapkan agar tim penyelamat segera tiba di tempat, atau memakan daging penumpang yang telah meninggal. Memakan bangkai manusia jelas haram, namun bila plihannya antara memakan yang haram atau kita akan binasa, maka Islam memberikan kelonggaran untuk dapat mengkonsumsi barang haram sekadarnya untuk bertahan hidup.

 

Secara grafis keadaan ini ditunjukkan dengan terbatasnya supply barang halal X sejumlah QxF, atau dapat juga kita katakan jumlah maksimal barang X yang tersedia pada keadaan full capacity adalah sebesar QxF. Dengan asumsi maximizing behavior, maka tingkat utility U3 lebih baik dibandingkan U1. Perhatikanlah bahwa untuk tingkat utility U1 dan U3, optimal solution nya adalah corner solution pada garis horizontal sumbu X. Kedua corner solution itu menunjukkan berapa jumlah barang X yang diminta, sebut saja Qx(U1) untuk tingkat utility U1 dan Qx (U3) untuk tingkat utility U3. Perhatikan pula bahwa Qx(U1) < QxF < Qx(U3). Oleh karena QxF adalah jumlah maksimal barang X, dan Qx(U3) lebih besar dari QxF, maka dapat kita simpulkan bahwa tingkat utility U3 tidak tercapai.

 

Untuk tingkat utility U1, QxF akan memotong U1 pada titik DP (darurat point). Pada titik DP ada sejumlah pendapatan yang sebenarnya dapat digunakan untuk mengkonsumsi barang X sejumlah Qx(U3), namun karena terbatasnya barang X sejumlah QxF, maka akan ada sejumlah pendapatan yang dialokasikan untuk mengkonsumsi barang haram Y. Perhatikanlah bahwa titik DP bukanlah titik optimal. Titik DP tidak terjadi pada saat persinggungan antara indifference curve dengan budget line atau dengan kata lain MRS pada titik DP tidak sama dengan slope budget line.

 

Oleh karena dalam pilihan barang halal-haram, optimal solution selalu terjadi corner solution yaitu mengkonsumsi barang halal seluruhnya, maka setiap keadaan darurat yaitu keadaan yang secara terpaksa harus mengkonsumsi barang haram, pastilah bukan corner solution dan oleh karenanya pasti bukan optimal solution. Keadaan darurat selalu bukan keadaan optimal.

 

Sub-optimality keadaan darurat dengan jelas terlihat bila kita membandingkan titik DP dengan titik Qx(U2). Optimal solution untuk tingkat uitlity U2 adalah corner solution pada tingkat QxF. Oleh karena tingkat utility U2 lebih baik dibandingkan tingkat utility U1, jelaslah titik DP sub-optimal dibanding Qx(U2).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.15. Sub Optimal Solution, Barang Halal X dan Barang Haram Y

Supply barang X terbatas dimana kondisi jumlah maksimum pada QxF (Qx pada full capacity), sehingga kurva U3 tidak dapat dicapai. Pada darurat point (DP) terdapat barang Y.

Jelas disini bahwa darurat point (DP) bulanlah solusi yang optimal karena titik DP bukan merupakan titik persinggungan. DP selalu tidak optimal. Apabila U2 > U1, maka U2 optimal. Pada U2, tidak ada permintaan terhadap barang haram Y.

 

 

J. Permintaan Barang Haram dalam Keadaan Darurat

 

Darurat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mengancam keselamatan jiwa. Oleh karena sifat darurat itu sendiri adalah sementara maka permintaan barang haram pun hanya bersifat insidentil. Secara matematis keadaan ini digambarkan dengan fungsi yang discrete, bukan fungsi yang kontinyu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.16. Demand terhadap Barang Haram Y pada Darurat Point

Demand terhadap barang haram Y pada darurat point bukan merupakan fungsi dari harga Y. Ini adalah point demand (Dy).

Penggunaan konsep darurat adalah terbatas dan harus sesuai dengan syariah.

Pada titik DP jumlah permintaan barang haram Y adalah sejumlah Qy*. Dengan bantuan garis 45’ sebagai cermin, kita dapat menurunkan permintaan barang haram Y, yaitu pada titik koordinat (Qy*, Py*). Jadi permintaan barang haram Y berbentuk Titik Permintaan (Demand Point) Dy.

 

Permintaan barang haram Y bukan merupakan kurva permintaan fungsi dari harga Y. Sebuah kurva adalah kumpulan dari titik-titik, atau garis yang menghubungkan antara dua titik. Sedangkan permintaan barang haram Y dalam keadaan darurat adalah unik untuk setiap keadaan darurat yang muncul. Misalnya dalam keadaan darurat seperti kisah jatuhnya pesawat terbang, maka permintaan akan daging bangkai manusia hanya berlaku pada keadaan darurat itu saja. Fungsi discrete. Tidak dapat kita katakan bahwa bila telah lima hari tidak makan, maka permintaan akan daging bangkai manusia sejumlah satu kilogram, sedangkan bila empat hari tidak makan permintaannya hanya sejumlah tiga-perempat kilogram. Kita pun tidak dapat mengatakan bahwa bila tujuh hari tidak makan, maka permintaan daging bangkai manusia sejumlah satu setengah kilogram. Dalam ilmu ekonomi, hal ini berarti tidak memenuhi satu dari tiga aksioma atau postulat yang menjadi dasar teori utility function. Dalam hal permintaan barang haram Y, aksioma pertama dan kedua terpenuhi. Namun aksioma ketiga tidak terpenuhi. Itu sebabnya, kita pun tidak dapat mengatakan bahwa fungsi permintaan barang Y berbentuk garis vertikal pada titik Qy*, atau dalam istilah ekonomi disebut perfectly inelastic. Permintaan barang haram Y bukan merupakan fungsi dari harga Y, bukan merupakan fungsi yang kontinyu, bukan pula berbentuk kurva. Ia adalah Demand Point (Titik Permintaan).

BAB V

TEORI KONSUMSI ISLAMI

 

 

A. KONSUMSI INTER-TEMPORAL KONVENSIONAL

Yang dimaksud dengan konsumsi inter-temporal adalah konsumsi yang dilakukan dalam dua waktu yaitu masa sekarang (periode pertama) dan masa yang akan datang (periode kedua). Dalam ekonomi konvensional, pendapatan adalah penjumlahan konsumsi dan tabungan. Atau secara matematis ditulis:

 

Y = C + S

dimana: Y = pendapatan

C = konsumsi

S = tabungan

 

Misalkan pendapatan, konsumsi, saving pada periode pertama adalah Y1, C1, S1 dan pendapatan, konsumsi, dan saving pada periode kedua adalah Y2, C2, dan S2, maka persamaan di atas dapat dituliskan sebagai berikut:

 

Pendapatan pada periode pertama adalah:

Y1 = C1 + S1

 

Pendapatan pada periode kedua adalah:

Y2 = C2 + S2

 

Apabila konsumsi di periode pertama lebih kecil daripada pendapatan, maka akan terjadi saving dan konsumsi di periode kedua semakin besar.

 

Y1 = C1 + S1, dan C1< Y1

Y2 = C2 + S2

= (C2 + S1) + S2

 

Dari persamaan di atas dapat diketahui bahwa semakin besar konsumsi pada periode pertama, akan semakin kecil savingnya dan konsumsi di periode kedua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perilaku konsumen dimana terjadi selisih antara pendapatan dengan jumlah uang yang digunakan untuk konsumsi, dapat dibagi menjadi 3:

Lender, dimana jumlah kosumsi lebih kecil daripada pendapatan.

Borrower, dimana jumlah konsumsi lebih besar daripada pendapatan.

Polonius Point, dimana jumlah konsumsi sama dengan jumlah pendapatan.

 

Apabila terdapat sistem bunga, maka saving yang terjadi pada periode pertama akan memberian nilai lebih sebesar bunga, sehingga persamaan konsumsi pada periode kedua menjadi:

 

C2 = Y2 + S1 + r (S1)

= Y2 + (Y1-C1) + r (Y1-C1)

= Y2 + (1+r) (Y1-C1)

 

 

B. KONSUMSI INTER-TEMPORAL DALAM ISLAM

 

Monzer Kahf (1981) berusaha mengembangkan pemikiran tentang hal ini, dengan memulai membuat asumsi sebagai berikut:

Islam dilaksanakan oleh masyarakat

Zakat hukumnya wajib

Tidak ada riba dalam perekonomian

Mudarabah wujud dalam perekonomian

Pelaku ekonomi mempunyai perilaku memaksimalkan

 

Dalam konsep Islam yang dijelaskan oleh hadist Rasulullah saw yang maknanya adalah "Yang kamu miliki adalah apa yang telah kamu makan dan apa yang telah kamu infakkan". Oleh karena itu persamaan pendapatan menjadi:

Y = (C + Infak) + S

Secara grafis, hal ini seharusnya digambarkan dengan tiga dimensi. Namun untuk kemudahan penyajian grafis yaitu dengan dua dimensi, maka persamaan ini disederhanakan menjadi:

Y = FS + S

dimana: FS = C + Infak

FS adalah final spending di jalan Allah

 

Penyederhanaan ini memungkinkan kita untuk menggunakan alat analisa grafis yang biasa digunakan dalam teori konsumsi, yaitu memaksimalkan fungsi utilitas (utility function) dengan garis pendapatan tertentu (budget line), atau meminimalkan budget line dengan utility function tertentu.

 

Dalam pola konsumsi satu periode, sumbu X dan Y menunjukkan jumlah barang X dan barang Y. Sedangkan dalam pola konsumsi intertemporal (dua periode), sumbu X menunjukkan jumlah pendapatan, konsumsi, dan tabungan pada periode pertama. Secara matematis ini disimbolkan sebagai Yt, Ct, dan St. Karena konsumsi dalam konsep Islam yang dikenal adalah (C + Infak), maka simbol yang digunakan adalah FSt. Pada sumbu Y menunjukkan jumlah tabungan periode pertama (St) yang digunakan sebagai konsumsi periode kedua (Ct+1), atau dengan kata lain St = Ct+1. Dalam konsep Islam, simbol yang digunakan adalah FSt+1, atau persamaannya menjadi St = FSt+1.

 

Dalam pembahasan pola konsumsi intertemporal ini, kita batasi hanya pada dua periode saja yaitu periode t dan periode t+1. Karena yang digunakan adalah pola konsumsi dua periode saja, maka pendapatan diasumsikan hanya muncul pada periode pertama, dan tidak muncul pada periode kedua. Itu sebabnya pada sumbu Y tidak ditemui Y t+1.

 

C. Hubungan terbalik Riba dengan Sedekah

Sekarang bayangkanlah suatu keadaan dimana:

Orang tidak mau bekerja mencari pendapatan

Praktek riba menjadi tradisi di masyarakat

Zakat wajib dilaksanakan

 

Dalam keadaan ini berarti sumber pendapatan masyarakat hanya dari riba saja, dan tidak ada sumber pendapatan lain.

 

Dari keadaan ini dapat digambarkan tiga kombinasi utility function (dalam hal ini disebut indifference curve atau I) dengan budget line.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kasus 1

Budget line YY menunjukkan keadaan dimana:

Orang tidak mau memakan riba yang juga berarti tambahan pendapatannya nihil. Secara matematis ditulis: Yt = Yt+1 riba, dimana riba = 0, sehingga Yt+1 = Yt

Orang tidak mengeluarkan zakat atas hartanya. Bila ia telah mengeluarkan zakatnya ketika menerima pendapatan, maka ia tidak mengeluarkan zakat lagi pada periode pertama. Atau dengan kata lain Yt adalah pendapatan setelah zakat (income after zakat).

 

Titik optimal terjadi pada persinggungan budget line dengan indifference curve yaitu pada titik R, dimana tingkat konsumsi dan infaknya adalah sebesar FS.

 

 

Kasus 2

 

Budget line YY’ menunjukkan keadaan dimana:

Orang tidak mau memakan riba yang juga berarti tambahan pendapatannya nihil. Secara matematis ditulis: Yt = Yt + riba, dimama riba > 0, sehingga Yt+1 > Yt

Orang tidak mengeluarkan zakat atas hartanya, dalam hal ini zakat atas kenaikan hartanya akibat riba.

 

Titik optimal terjadi pada persinggungan budget line dengan indifference curve yaitu pada titik R’, dimana tingkat konsumsi dan infaknya adalah sebesar FS’.

 

Dibandingkan dengan kasus 1 yang tidak ada riba, maka kasus 2 ini menghasilkan tingkat FS’ yang lebih kecil daripada FS (FS’ < FS). Jadi dengan dibolehkannya riba ternyata terjadi penurunan final spending. Dari dua komponen final spending yaitu konsumsi (C) dan infak, maka yang paling mungkin turun adalah komponen infak. Hal ini disebabkan karena kecenderungan orang untuk mempertahankan tingkat konsumsinya. Dengan kata lain komponen konsumsi cenderung fixed untuk tingkat pendapatan tertentu, sedangkan komponen infak cenderung variable untuk tingkat pendapatan tertentu. Sehingga kita mendapatkan hubungan terbalik (inverse relationship) antara riba dengan infak:

( - )

Infak = f (Riba)

 

 

Semakin besar riba, semakin kecil infak; semakin kecil riba, semakin besar infak. Dalam suatu masyarakat dimana riba telah begitu merajalela, maka tingkat infaknya akan kecil bahkan kadangkala orang berusaha menghindar untuk membayar zakat yang memang merupakan kewajibannya.

 

Sebaliknya bila riba dihapuskan dari perekonomian, maka infak akan tumbuh subur. Allah berfirman "Allah menghapuskan riba dan menyuburkan sedekah" (QS 2:276).

 

Kasus 3

Budget line YY" menunjukkan keadaan dimana:

Orang tidak mau memakan riba dan tidak juga mau bekerja mencari pendapatan sehingga tambahan pendapatannya nihil. Secara matematis ditulis: Yt = Yt + riba, dimana riba = 0, sehingga Yt+1 = Yt

Orang harus mengeluarkan zakat atas hartanya, dalam hal pendapatan periode pertama yang disimpan saja. Bila ia tidak melakukan konsumsi atau infak pada periode pertama (FSt= 0), maka Yt+1 – (Ct + Infak) = St. Zakat dikeluarkan sebesar zSt, dimana z adalah rate zakat.

Titik optimal terjadi pada persinggungan budget line dengan indifference curve yaitu pada titik R", dimana tingkat konsumsi dan infaknya adalah sebesar FS".

Dibandingkan dengan kasus 1 dan kasus 2, maka kasus 3 ini tingkat indifference curve nya berada pada tingkat yang paling rendah. Hal ini wajar saja, karena dengan tidak bekerja dan tidak memakan riba berarti ia tidak mendapat pendapatan apapun baik yang halal maupun yang haram. Jadi wajar saja bila indiffirence curvenya berada pada tingkat yang paling rendah.

 

Yang menarik lagi adalah, untuk tingkat pendapatan tertentu (given any income), final spending pada kasus 3 ini lebih besar dibandingkan dengan final spending pada kasus 2 dan kasus 3 (FS" > FS > FS’).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Logikanya sebagai berikut. Bagi orang yang tidak mempunyai sumber pendapatan apapun sedangkan ia sadar bahwa ia harus mengeluarkan zakatnya ketika mencapai waktunya (haul), maka ia mempunyai empat pilihan:

Mempertahankan tingkat konsumsinya, misalnya pada tingkat C1, sehingga jumlah objek zakatnya adalah Y - C1 – Infak1 = S1, dan jumlah zakatnya adalah Z1 = zS1

Meningkatkan tingkat konsumsinya menjadi C2 dimana C2 = C1 + c, c > 0 sehingga C2 > C1; jumlah objek zakatnya adalah Y – C2 – Infak1 = S2, dan jumlah zakatnya adalah Z2 = zS2. Oleh karena C2 > C1, maka S2 < S1 dan Z2 < Z1. Bila strategi ini yang digunakan, maka orang akan berada pada tingkat konsumsi yang lebih tinggi dan membayar zakat lebih kecil.

Meningkatkan tingkat infaknya menjadi Infak2 dimana Infak2 = Infak1 + inf, inf > 0 sehingga Infak2 > Infak1; jumlah objek zakatnya adalah Y – C1 – Infak2 = S3, dan jumlah zakatnya adalah Z3 = zS3. Oleh karena Infak2 > Infak1, maka S3 < S1 dan Z3 < Z1. Bila strategi ini yang digunakan, maka orang akan memilih untuk memperbesar infaknya untuk menghindari kewajiban zakat karena dengan berinfak, hartanya tidak lagi mencapai nisab.

Kombinasi dari pilihan diatas.

 

 

D. Hubungan terbalik Saving Ratio dengan Final Spending

Untuk melihat hubungan antara saving dan final spending, kita akan melihatnya pada final spending dalam periode pertama dan periode kedua. Total final spending pada dua periode tersebut adalah final spending periode pertama ditambah final spending periode kedua, atau secara matematis:

FS = FS(t=1) + FS (t=2)

 

dimana:

 

FS(t=1) = Y – S

FS(t=2) = S - Sz

 

 

Karena S = sY

 

maka dapat ditulis:

 

FS = (Y –S) + (S – zS)

= (Y – sY) + (sY – zsY)

= Y (1 – zs)

 

Dari persamaan ini, terlihat bahwa komponen ‘zs’ bertanda negatif. Ini menunjukkan adanya hubungan terbalik antara final spending dengan saving ratio ‘s’; sedangkan zakat rate ‘z’ tetap besarannya. Semakin besar ‘-s’ maka semakin kecil FS; sebaliknya semakin kecil ‘-s’ maka semakin besar FS.

 

Secara grafis ini dapat digambarkan dengan kurva Ys1, Ys2, dan Ys3. Kemiringan (slope) dari ketiga kurva tersebut tidak berbeda yaitu –{(1-z)/1}.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk mudahnya, bayangkanlah kasus 3 yaitu keadaan dimana tidak ada sumber tambahan pendapatan dan wajib mengeluarkan zakat.

 

Dalam keadaan seperti itu, semakin besar saving yang dilakukan maka akan semakin besar zakat yang wajib dibayar, padahal tidak ada tambahan pendapatan (Z1 > Z2 > Z3 karena s1 > s2 > s3). Sehingga hartanya akan habis termakan oleh zakat. Itu sebabnya secara grafis digambarkan tingkat indifference I1 < I2 < I3. Pada saving ratio terbesar yaitu s3, maka indifference curve berada pada tingkat terendah.

 

Dengan asumsi bahwa final spending periode pertama dan final spending periode kedua adalah barang normal (normal goods), maka final spending di kedua periode akan lebih besar dengan semakin kecilnya saving ratio.

 

 

E. Investasikan Saving

 

Apalah artinya tabungan bila tidak diinvestasikan. Ia hanya menjadi seonggok harta yang tidak berguna. Islam tidak menyukai adanya tindakan penimbunan harta yang sia-sia ini. Di satu pihak Islam memberikan disinsentif terhadap saving yang tidak diinvestasikan, namun di pihak lain Islam memberikan insentif untuk melakukan investasi. Konsekuensi logis dari investasi adalah munculnya peluang untuk untung dan rugi.

 

Katakanlah seorang mempunyai harta (Wealth, W) sebesar Rp 100 juta. Harta ini dapat digunakan seluruhnya untuk investasi atau sebagiannya. Tingkat pemanfaatan harta ini sebut saja ‘v’. Bila seluruhnya diinvestasikan maka v = 1, sedangkan bila tidak ada yang diinvestasikan maka v = 0

 

Dengan v = 1, katakanlah tingkat returnnya, r = 50% atau R = Rp 50juta. Bila diasumsikan skala usaha tidak berpengaruh pada tingkat return yaitu tetap 50%, bila v = 0,5 maka rertunnya R = Rp 25 juta. Bila dalam menginvestasikan hartanya, ia tidak melakukannya sendiri, misalnya melalui kerjasama bagi hasil mudarabah, maka return ini akan dibagihasilkan berdasarkan nisbah Q. Secara matematis dapat ditulis:

 

Y = (QR) vW

 

dimana:

 

Y = pendapatan

Q = nisbah bagi hasil

v = tingkat pemanfaatan harta

W = harta yang ditabung

 

Semakin besar pemanfaatan harta (v), semakin besar pula pendapatan (Y).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Secara grafis, v =1 digambarkan dengan budget line YY dengan tingkat indifference curve I. Bila tidak seluruh saving diinvestasikan yaitu v’ dimana v’ < 1, maka budget line berotasi berlawanan arah jarum jam menjadi YY’ dengan tingkat indifference curve I’ dimana I’ < I. Bila tingkat pemanfaatannya lebih rendah lagi yaitu v" dimana v" < v’ < v, maka budget line menjadi YY" dengan tingkat indifference curve I" dimana I" < I’ < I.

 

Jelasnya bila v < 1, maka konsumen akan berada pada tingkat indifference curve yang lebih rendah. Dengan kata lain bila tidak seluruh saving digunakan untuk investasi, maka konsumen akan berada pada tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.

 

Jadi dengan argumen ilmu ekonomi, kita berusaha menjelaskan bahwa salah satu maksud larangan penimbunan harta yang diatur dalam QS At Takatsur adalah untuk meningkatkan kesejahteraan manusia itu sendiri.

BAB VI

TEORI PRODUKSI ISLAMI

 

Abdurrahman Ibnu Khaldun alias Abu Zayd, ulama terkemuka kelahiran Tunisia (1332) dan wafat di Kairo (1406) menegaskan bahwa kekayaan suatu negara tidak ditentukan oleh banyaknya uang di negara tersebut. Kekayaan suatu negara ditentukan oleh dua hal:

Tingkat produksi domestik

Necara pembayaran yang positif dari negara tersebut

 

 

A. Tingkat Produksi Domestik

 

Dapat saja satu negara mencetak uang sebanyak-banyaknya, tetapi bila hal itu bukan merupakan refleksi pesatnya pertumbuhan sektor produksi (baik barang maupun jasa), maka uang yang melimpah itu tidak ada nilainya. Sektor produksilah yang menjadi motor pembangunan, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan pekerja, dan menimbulkan permintaan atas faktor produksi lainnya. Dalam teori ekonomi kemampuan untuk memproduksi sesuatu digambarkan oleh grafik . Misalnya orang memiliki pilihan untuk memproduksi dua jenis barang yaitu beras dan jagung dengan sumber daya yang dimilikinya. Sumbu X menggambarkan kemampuan memproduksi beras, sedang sumbu Y untuk jagung. Kurva possible production frontier (PPF) menggambarkan tingkat produksi maksimal yang mungkin dicapai dengan sumber daya yang dimiliki. Semakin besar PPF berarti semakin tinggi tingkat produksinya, semakin tinggi tingkat kekayaan negara tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B. Neraca Pembayaran Positif

 

Ibnu Khaldun juga menegaskan bahwa necara pembayaran yang positif akan meningkatkan kekayaan negara tersebut. Hal ini disebabkan neraca pembayaran yang positif menggambarkan dua hal:

Tingkat produksi negara tersebut untuk suatu jenis komoditi lebih tinggi daripada tingkat permintaan domestik negara tersebut, atau supply lebih besar dibanding demand, sehingga memungkinkan negara tersebut melakukan ekspor.

Tingkat efisiensi produksi negara tersebut lebih tinggi dibandingkan negara lain. Dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi maka komoditi suatu negara mampu masuk ke negara lain dengan harga yang lebih kompetitif.

 

Dalam level makro bahasan kita adalah kemampuan produksi suatu negara, sedangkan dalam level mikro bahasan kita adalah kemampuan produksi suatu produsen. Secara grafis, pendapat Ibnu Khaldun ini dapat digambarkan dengan tingkat utilitas yang berada diluar PPF. Ini berarti negara yang melakukan perdagangan internasional akan menikmati tingkat kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan tidak melakukan perdagangan. Dalam ilmu ekonomi, konsep ini dikenal sebagai gain from trade. Tanpa adanya perdagangan, maka tingkat kesejahteraan tertinggi dicapai ketika kurva utilitas bersinggungan dengan PPF, yaitu pada titik autarky (titik memenuhi kebutuhan sendiri). Sedangkan adanya perdagangan akan mendorong kurva utilitas ke tingkat yang lebih tinggi yang tidak mungkin dicapai oleh PPF.

 

Pada titik autarky, relative price antara beras dan jagung digambarkan oleh garis harga (price line) Pau. Sekarang katakanlah produsen ini mempunyai tingkat efisiensi yang relatif lebih tinggi dalam memproduksi beras dari produsen lain. Maka ia akan mengalokasikan lebih banyak sumberdaya untuk memproduksi beras, sehingga jumlah beras yang diproduksinya naik menjadi Qb2, dan jumlah jagung yang diproduksinya turun menjadi Qj2. Kelebihan produksi beras ini diperdagangkan dengan harga yang berlaku yaitu Pp. Dengan price line yang baru ini, produsen dapat menaikkan utilitasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C. Faktor Produksi

 

Dalam pandangan Baqir Sadr (1979), ilmu ekonomi dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:

Filosofi Ekonomi

Ilmu Ekonomi

 

Perbedaan ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional terletak pada filosofi ekonomi, bukan pada ilmu ekonominya. Filosofi ekonomi memberikan ruh pemikiran dengan nilai-nilai Islam dan batasan-batasan syariah. Sedangkan ilmu ekonomi berisi alat-alat analisa ekonomi yang dapat digunakan.

 

Dengan kerangka pemikiran ini, maka faktor produksi dalam ekonomi Islam tidak berbeda dengan faktor produksi dalam ekonomi konvensional, yang secara umum dapat dinyatakan dalam:

Faktor produksi tenaga kerja

Faktor produksi bahan baku dan bahan penolong

Faktor produksi modal

 

 

Diantara ketiga faktor produksi ini, faktor produksi modal yang memerlukan perhatian khusus karena ekonomi konvensional memberlakukan sistem bunga. Pengenaan bunga terhadap modal ternyata membawa dampak yang luas bagi tingkat efisiensi produksi.

 

Untuk menggambarkan keadaan ini, kita akan menggunakan alat bantu grafis yang pada sumbu X menunjukkan jumlah produksi atau jumlah output yang disimbolkan dengan Q (quantity), dan pada sumbu Y menunjukkan biaya dan penerimaan dalam satuan rupiah. Komponen biaya adalah biaya tetap (fixed cost, FC) dan biaya keseluruhan (total cost, TC), sedangkan komponen penerimaan adalah merupakan penerimaan keseluruhan (total revenue, TR).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D. Kurva Biaya

 

Biaya yang dikeluarkan oleh produsen dapat dibedakan menjadi biaya tetap (fixed cost atau FC) dan biaya variabel (variable cost atau VC). Total biaya yang harus dikeluarkan produsen adalah: TC = FC + VC

 

Fixed cost besarnya tidak dipengaruhi oleh berapa banyak output atau produk yang dihasilkan. Oleh karena itu kurva FC digambarkan sebagai garis horizontal: berapapun output yang dihasilkan , biayanya tetap. Salah satu contoh dari biaya tetap ini adalah biaya bunga yang harus dibayar produsen. Besarnya beban bunga yang harus dibayar tergantung pada berapa banyak kredit yang diterima produsen, bukan tergantung pada berapa banyak output yang dihasilkannya.

 

 

 

Variable cost besarnya ditentukan langsung oleh berapa banyak output yang dihasilkan. Misal untuk setiap satu kg beras yang dihasilkan diperlukan biaya Rp 1000,-. Berarti untuk memproduksi dua kg beras, biayanya Rp 2000,-, dan seterusnya.

.

 

 

Quantity (kg)

Variable Cost (Rp)

1

1000

2

2000

3

3000

4

4000

5

5000

6

6000

7

7000

dst

dst

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan adanya beban bunga yang harus dibayar produsen, maka fixed cost (biaya tetap) produsen naik, yang pada gilirannya juga meningkatkan biaya total dari TC ke TCi. Dengan menggunakan sistem bagihasil hal ini tidak terjadi. Naiknya total cost akan mendorong Break Even Point dari titik Q ke Qi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6.5. Produksi dengan Sistem Bunga

Dengan adanya bunga, maka besarnya biaya tetap (FC) naik begitu juga dengan total cost. Hal ini akan menggeser jumlah produksi dari Q ke Qi.

 

 

 

 

E. Kurva Penerimaan

 

Katakanlah setiap kg beras dijual dengan harga Rp 2000, maka untuk satu kg beras, produsen akan mendapat penerimaan Rp 2000,-. Bila dua kg, penerimaannya Rp 4000,-, dan seterusnya.

 

Adanya beban bunga yang harus dibayar produsen sama sekali tidak akan mempengaruhi kurva penerimaan. Oleh karena itu kurva total penerimaan (TR) dalam sistem bunga adalah TRi = TR. Dalam sistem bagi hasil yang terpengaruh adalah kurva TR. Misalnya disepakati bagi hasil dengan nisbah 70:30 dari penerimaan (70% untuk produsen, 30% untuk pemodal). Bila terjual satu kg, maka bagi hasil yang diterima produsen sebesar Rp 1400,-, bila dua kg maka Rp 2800,-, dan seterusnya.

 

 

 

Jumlah Terjual (kg)

Penerimaan (Rp)

Bagi Hasil (Rp)

1

2000

1400

2

4000

2800

3

6000

4200

4

8000

5600

5

10000

7000

6

12000

8400

7

14000

9800

dst

dst

dst

 

 

Jadi bila dalam sistem bunga yang berubah adalah kurva TC yaitu kurva TC akan bergeser paralel ke kiri atas, sedangkan dalam sistem bagi hasil yang berubah adalah kurva TR akan berputar kearah jarum jam dengan titik 0 sebagai sumbu putarannya. Semakin besar nisbah bagi hasil yang diberikan kepada pemodal (ekstrimnya limit dari nisbah 0:100) semakin kurva TR itu mendekati horizontal sumbu X.

 

Titik BEP adalah titik impas yaitu ketika kurva TR berpotongan dengan kurva TC, atau secara matematis titik BEP terjadi ketika: TR = TC. Dengan berputarnya kurva total penerimaan dari TR menjadi TRrs, titik BEP yang tadinya terjadi pada jumlah output Q sekarang menjadi pada jumlah output Qrs.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari sisi BEP, kita tidak dapat mengatakan bahwa sistem bunga akan berproduksi pada tingkat output yang lebih kecil, lebih besar atau sama dengan tingkat output sistem bagi hasil. Di kedua sistem ini, kita mendapatkan bahwa Qi > Q dan Qrs > Q. Apakah Qi > Qrs atau Qi < Qrs atau Qi = Qrs ditentukan dari berapa besar bunga dibandingkan dengan berapa besar nisbah bagi hasil. Perbedaannya adalah pada penyebabnya, bila Qi disebabkan naiknya TC, maka Qrs disebabkan berputarnya TR. Yang pasti adalah bahwa kedua sistem, baik sistem bunga maupun revenue sharing akan menggeser Q menjadi lebih besar.

 

Dalam akad muamalat Islam, dikenal akad mudarabah yaitu akad antara si pemodal dengan si pelaksana. Antara si pemodal dan si pelaksana harus disepakati nisbah bagi hasil yang akan menjadi pedoman pembagian bila usaha tersebut menghasilkan untung. Namun bila usaha tersebut malah menimbulkan kerugian, maka si pemodal yang akan menanggung sesuai penyertaan modalnya, dalam hal ini 100%. Si pelaksana baru harus menanggung rugi bila rugi tersebut disebabkan kelalaiannya sendiri atau karena ia melanggar syarat yang telah disepakati bersama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain menyepakati nisbah bagi hasil, mereka juga harus menyepakati siapa yang akan menanggung biaya. Dapat saja disepakati bahwa biaya ditanggung oleh si pelaksana atau ditanggung oleh si pemodal. Bila yang disepakati adalah biaya ditanggung oleh si pelaksana, ini berarti yang dilakukan adalah bagi penerimaan (revenue sharing). Sedangkan bila yang disepakati adalah biaya ditanggung oleh si pemodal, ini berarti yang dilakukan adalah bagi untung (profit sharing).

 

Berputarnya TR ke arah jarum jam dengan titik 0 sebagai sumbu putarannya, adalah keadaan yang menggambarkan akad revenue sharing.

Bila yang disepakati adalah mudarabah yang biaya-biaya ditanggung oleh si pemodal, atau dengan kata lain, dengan sistem bagi untung (profit sharing), maka kurva total penerimaan berputar ke arah jarum jam dengan titik BEP sebagai sumbu putarannya. Tingkat produksi sebelum titik BEP tercapai (Q < Qps) adalah keadaan dimana total biaya lebih besar daripada total penerimaan (TC > TR). Dalam keadaan ini, belum ada keuntungan yang dapat dibagihasilkan. Sesuai kesepakatan bahwa biaya ditanggung oleh si pemodal, maka kerugian itu menjadi beban si pemodal. Itu sebabnya kurva total penerimaan TR berputar ke arah jarum jam dengan titik BEP sebagai sumbu putarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perbedaan kedua antara sistem revenue sharing dengan sistem profit sharing dalam akad mudarabah adalah pada berapa jauh kurva TR berputar. Dalam sistem revenue sharing, kurva TR akan berputar sampai mendekati garis horizontal sumbu X. Sedangkan dalam sistem profit sharing, kurva TR hanya akan berputar di dalam "mulut buaya" TR dan TC, yaitu area yang menggambarkan besarnya keuntungan. Dalam sistem profit sharing, TR tidak dapat berputar melewati TC, karena pada area itu sudah tidak ada lagi keuntungan yang akan dibagi hasilkan.

 

 

 

Jauh Putaran

Objek yang dibagihasilkan

Sumbu Putaran

Revenue Sharing

Sampai mendekati sumbu X

TR

Titik 0

Profit Sharing

Diantara kurva TR dan TC

TR - TC

Titik BEP

Profit & Loss Sharing

Diantara kurva TR dan TC;

Diantara kurva TC dan TR

TR - TC

Titik 0

 

 

Dalam muamalat Islam, sebenarnya akad mudarabah merupakan salah satu bentuk dari akad musyarakah. Bila dalam akad mudarabah ditentukan bahwa penyertaan si pelaksana harus nihil, sehingga penyertaan si pemodal harus 100%, maka dalam akad musyarakah tidak ditentukan seperti itu sehingga yang terjadi adalah penyertaan dari dua orang pemodal.

 

Antara dua orang pemodal ini harus disepakati nisbah bagi hasil yang akan menjadi pedoman pembagian bila usaha tersebut menghasilkan untung. Namun bila usaha tersebut malah menimbulkan kerugian, maka pemodal yang akan menanggung sesuai penyertaan modalnya. Misalnya si A modal penyertaannya 100 juta sedangkan si B 200 juta. Mereka sepakat nisbah bagi hasilnya 50:50. Bila usaha mereka untung 10 juta, maka masing-masing pemodal akan mendapat 5 juta. Bila usaha mereka rugi 9 juta, maka si A menanggung 3 juta dan si B menanggung 6 juta.

 

Secara grafis keadaan merugi digambarkan dengan "mulut buaya bawah" yaitu area sebelum tercapainya BEP (Q < Qps); sedangkan keadaan telah mengalami keuntungan digambarkan dengan "mulut buaya atas" yaitu area setelah tercapainya BEP. Bagi untung yang terjadi pada "mulut buaya atas" tidak perlu simetris dengan bagi rugi yang terjadi pada "mulut buaya bawah", karena bagi untung berdasarkan nisbah, sedangkan bagi rugi berdasarkan penyertaan modal masing-masing.

 

 

 

 

F. Efisiensi Produksi

 

Dalam kriteria ekonomi, suatu sistem produksi dikatakan lebih efisien bila memenuhi salah satu dari kriteria ini:

Minimalisasi biaya untuk memproduksi jumlah yang sama

Maksimalisasi produksi dengan jumlah biaya yang sama

 

Dengan kriteria ini mari kita lihat mana yang lebih efisien sistem produksi dengan sistem bunga atau dengan sistem bagi hasil.

 

 

Minimalisasi Biaya untuk Memproduksi Jumlah yang Sama

 

Untuk melihat ini, kita gunakan kurva total cost yang membandingkan antara total cost sistem bunga dengan total cost sistem bagi hasil. Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu, total cost sistem bunga akan lebih tinggi daripada total cost sistem bagi hasil. Secara grafis, total cost sistem bagi hasil digambarkan dengan TC. Sedangkan total cost sistem bunga digambarkan dengan TCi.

 

Ambillah titik mana saja pada sumbu X sebagai titik yang menggambarkan tingkat produksi yang sama (Q yang sama). Kemudian tariklah garis vertikal sampai memotong TC dan TCi. Untuk masing-masing perpotongan antara garis vertikal dengan TC dan TCi, tariklah garis horizontal ke sumbu Y. Ternyata untuk tingkat produksi yang sama (Q yang sama), total biaya sistem bagi hasil (TC) selalu lebih kecil dibandingkan total biaya dengan sistem bunga (TCi). Jadi menurut kriteria ini, produksi dengan sistem bagi hasil lebih efisien dibandingkan sistem bunga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6.9. Minimalisasi Biaya untuk Memproduksi Jumlah yang Sama

Pada jumlah produk yang sama (Q), TCrs = TCps < TCi

 

 

 

 

 

Maksimalisasi Produksi untuk Biaya yang Sama

 

Untuk melihat ini, kita gunakan kurva total cost yang membandingkan antara total cost sistem bunga dengan total cost sistem bagi hasil. Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu, total cost sistem bunga akan lebih tinggi daripada total cost sistem bagi hasil. Secara grafis, total cost sistem bagi hasil digambarkan dengan TC. Sedangkan total cost sistem bunga digambarkan dengan TCi.

 

Ambillah titik mana saja pada sumbu Y sebagai titik yang menggambarkan total biaya yang sama (TC yang sama), tentunya ambil titik yang diatas garis FCi. Kemudian tariklah garis horizontal sampai memotong TC dan TCi. Untuk masing-masing perpotongan antara garis horizontal dengan TC dan TCi, tariklah garis vertikal ke bawah ke sumbu X. Ternyata untuk total cost yang sama (TC yang sama), jumlah produksi sistem bagi hasil (Q) selalu lebih besar dibandingkan jumlah produksi dengan sistem bunga (Qi). Jadi menurut kriteria ini, produksi dengan sistem bagi hasil lebih efisien dibandingkan sistem bunga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Implikasi Lain

 

Dari segi efisiensi produksi kita telah menunjukkan bahwa produksi dengan sistem bagi hasil lebih efisien. Sekarang kita akan melihat implikasi lain yaitu skala ekonomi. Untuk melihat ini, kita gunakan kurva total revenue yang membandingkan total revenue sistem bagi hasil dengan total revenue sistem bunga. Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu, total revenue sistem bagi hasil akan berputar kearah jarum jam sedangkan total revenue sistem bunga tetap pada tempatnya tidak berputar. Secara grafis, total revenue sistem bagi hasil digambarkan dengan TRrs. Sedangkan total revenue sistem bunga digambarkan dengan TR.

 

Ambillah titik mana saja pada sumbu Y sebagai titik yang menggambarkan total revenue yang sama (TR yang sama). Kemudian tariklah garis horizontal sampai memotong TR dan TRrs. Untuk masing-masing perpotongan antara garis horizontal dengan TR dan TRrs, tariklah garis vertikal ke bawah ke sumbu X. Ternyata untuk total revenue yang sama (TR yang sama), jumlah produksi sistem bagi hasil (Q) selalu lebih besar dibandingkan jumlah produksi dengan sistem bunga (Qi). Jadi sistem bagi hasil bukan saja lebih efisien, tapi juga akan mendorong produsen untuk berproduksi pada skala ekonomi yang lebih besar.

BAB VII

Teori Penawaran Islami

 

 

A. fUNGSI pRODUKSI

 

Fungsi produksi untuk memproduksi barang q dapat diformulasikan sebagai q = f (K,L) yang menunjukkan berapa jumlah maksimal barang q yang dapat diproduksi dengan menggunakan berbagai alternatif kombinasi input modal (K) dan tenaga kerja (L).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7.1. Fungsi Produksi antara Kapital dan Labor

Kurva fungsi produksi dengan tingkat produksi yang berbeda, yaitu pada Q1. Q2. dan Q3.

 

 

 

 

Pada gambar 1 ini input modal digambarkan pada sumbu vertikal (dengan simbol K, dalam satuan jam mesin). Sedangkan input tenaga kerja digambarkan pada sumbu horizontal (dengan symbol L, dalam satuan jam tenaga kerja). Dengan demikian maka berbagai kombinasi input K dan L dapat dipetakan. Titik-titik kombinasi input K dan L yang menghasilkan tingkat output yang sama dapat saling dihubungkan sehingga membentuk suatu kurva. Kurva ini disebut kurva isoquant (iso=sama, quant=kuantitas output.) Pada gambar 1 di atas, kita telah memetakan tiga buah kurva isoquant, yakni kurva isoquant 1 (dengan symbol Q1), kurva isoquant 2 (dengan symbol Q2) dan kurva isoquant 3 (dengan symbol Q3). Semakin kurva isoquant menjauhi titik 0, maka jumlah input semakin besar, dan jumlah output semakin besar pula.

 

Jika fungsi produksi dinyatakan sebagai q = f (K,L) dan semua input digandakan dengan suatu konstanta positif m (m>1), maka kita dapat menggolongkan returns to scale dari fungsi produksi menjadi tiga:

 

 

 

Pengaruh terhadap Output

Returns to Scale

f(mK, mL) = mf(K,L) = mq

Konstan

f(mK, mL) < mf(K,L) = mq

Peningkatan

f(mK, mL) > mf(K,L) = mq

Penurunan

 

 

Bila kita melakukan penambahan input secara proporsional pada semua input, kemudian kita mendapatkan kenaikan output dengan proporsi yang lebih kecil, maka keadaan ini disebut sebagai penurunan returns to scale. Bila kenaikan output nya secara proporsi yang lebih besar, maka keadaan ini disebut sebagai peningkatan returns to scale. Sedangkan bila kenaikan output nya secara proporsi sama, maka keadaan ini disebut sebagai konstan returns to scale. Secara matematis, dikatakan:

 

Bila : f(mK,mL) = mkf(K,L)

 

k > 1 berarti peningkatan returns

k = 1 berarti konstan returns to scale

k < 1 berarti penurunan returns to scale

 

Secara grafis, hal ini ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7.2. Return to Scale : Meningkat, Tetap, Menurun

 

 

 

Pada kombinasi input 5 jam tenaga kerja(L) dan 1 jam mesin(K), dihasilkan output sebanyak 10 unit.. Bila kedua input digandakan dua kali (yakni dari 1K menjadi 2K; dan dari 5L menjadi 10L), maka output akan naik tiga kali, (yakni dari 10Q menjadi 30Q). Kemudian bila kedua input digandakan satu setengah kali (yakni dari 2K menjadi 3K; dan dari 10L menjadi 15L), maka output naik menjadi dua kali (yakni dari 30Q menjadi 60Q). Dengan demikian kumpulan kurva isoquant dari titik 0 sampai titik A merupakan contoh dari increasing returns to scale.

 

Ketika kombinasi input dinaikkan lagi dari titik A ke titik B, maka kita menaikkan input sebesar sepertiga kali dari 3K menjadi 4K; dan dari 15L menjadi 20L. Output yang dihasilkan naik juga sebesar sepertiga kalinya, dari 60Q menjadi 80Q. Karena itu, kasus dari titik A ke titik B merupakan kasus constant returns to scale.

 

Kasus decreasing returns to scale terjadi saat level output bergerak dari titik B ke titik C. Ketika kombinasi input dinaikkan sepertiga kali (yakni dari 4K menjadi 6K; dan dari 20L menjadi 30L), maka output hanya naik sebesar seperdelapan kalinya (yakni dari 80Q menjadi 90Q).

 

Dari kurva produksi inilah kita turunkan kurva biaya. Total biaya terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Misalnya, katakanlah untuk memproduksi barang q, diperlukan mengoperasikan mesin. Minimal waktu penyewaan mesin (K) adalah 120 jam, dan harga sewa mesin (r) sebesar $ 0.25 per jam. Biaya ini adalah biaya tetap (fixed cost, FC) yang harus dibayar berapapun tingkat produksinya. Secara matematis ditulis:

 

FC = rK.

Total cost = Fixed cost + Variable cost

= rK + wL

dimana :

 

r = harga sewa

K = waktu penyewaan

w = biaya tenaga kerja

L = jumlah jam kerja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7.3. Peningkatan Return to Scale

Bila kenaikan output secara proporsi yang lebih besar daripada input, maka keadaan ini disebut sebagai peningkatan returns to scale.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7.4. Konstan Return to Scale

 

 

 

 

 

 

Disamping itu, juga diperlukan tenaga kerja untuk memproduksi barang q. Semakin banyak tenaga kerja yang dipekerjakan, semakin banyak barang q yang dapat diproduksi. Secara matematis dikatakan, VC = wL, dimana w adalah biaya tenaga kerja per jam, dan L adalah jumlah Jam Kerja Orang.

 

 

 

 

 

Disamping itu, juga diperlukan tenaga kerja untuk memproduksi barang q. Semakin banyak tenaga kerja yang dipekerjakan, semakin banyak barang q yang dapat diproduksi. Secara matematis dikatakan, VC = wL, dimana w adalah biaya tenaga kerja per jam, dan L adalah jumlah Jam Kerja Orang.

 

 

 

Jumlah Tenaga Kerja

(Jam Orang Kerja/jam)

Jumlah Output q

(Bungkus/jam)

0

0

1

4

2

14

3

27

4

43

5

58

6

72

7

81

 

 

 

B. Total Cost dan Marginal Cost

 

Fungsi total cost menunjukkan, untuk setiap kombinasi input dan untuk setiap tingkat output, minimum total cost yang muncul adalah TC=TC(r,w,q). Meskipun fungsi total cost menggambarkan secara menyeluruh biaya yang harus dikeluarkan, namun akan lebih memudahkan dalam kaitannya dengan kurva permintaan, bila analisis biaya dilakukan pada biaya per unit. Ada dua konsep biaya per unit yang dikenal:

Average cost

Fungsi average total cost atau average cost adalah biaya per unit atau dihitung dengan rumus total cost dibagi dengan jumlah output yang dihasilkan. Secara matematis ditulis:

 

ATC = ATC (r,w,q) = TC (r,w,q) / q

 

Marginal cost

Fungsi marginal cost adalah tambahan biaya yang muncul untuk setiap tambahan output yang dihasilkan atau dihitung dengan rumus perubahan total biaya dibagi perubahan output. Secara matematis ditulis:

 

MC = MC (r,w,q) = d TC(r,w,q) / d q

 

Jadi fungsi total cost diturunkan dari fungsi total produksi, dan fungsi marginal cost diturunkan dari fungsi total cost. Begitu pula dengan fungsi average cost diturunkan dari fungsi total cost. Tabel berikut ini memberikan ilustrasi numerik dari hubungan komponen-komponen tersebut. Fixed cost of capital diasumsikan $ 30 / jam, dan biaya variabel yaitu biaya per unit tenaga kerja adalah $ 10 / jam.

 

 

 

L

Q

FC

VC

TC

AFC

AVC

ATC

MC*

0

0

30

0

30

¥

--

¥

1

4

30

10

40

7.50

2.50

10.00

2.50

2

14

30

20

50

2.14

1.43

3.57

1.0

3

27

30

30

60

1.11

1.11

2.22

0.77

4

43

30

40

70

0.70

0.93

1.63

0.63

5

58

30

50

80

0.52

0.86

1.38

0.67

6

72

30

60

90

0.42

0.83

1.25

0.71

7

81

30

70

100

0.37

0.86

1.23

1.11

8

84

30

80

110

0.36

0.95

1.31

3.33

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7.5. Total Cost dan Marginal Cost

 

 

Kurva marginal cost akan memotong dari bawah kurva average total cost pada titik minimalnya. Titik Q2 adalah jumlah output pada saat VC mencapai titik minimalnya yang juga adalah persinggungan kurva VC dengan rental cost per unit ( r ). Titik Q3 adalah jumlah output pada saat ATC mencapai titik minimalnya yang juga titik dimana kurva MC memotong dari bawah kurva ATC. Titik Q1 adalah jumlah output dimana kurva MC mencapai titik minimalnya yaitu pada saat perubahan returns to scale kurva variable cost yang juga perubahan returns to scale kurva total cost.

C. Marginal Cost dan Kurva Penawaran

 

Dalam jangka pendek perusahaan akan memaksimalkan labanya dengan memilih jumlah output dimana harga sama dengan marginal cost, selama tingkat harga tersebut lebih besar daripada nilai minimal biaya variabel rata-rata (average variable cost, AVC). Jika kedua keadaan tersebut terpenuhi, maka itulah kurva penawaran. Perhatikan bagan 6.

 

Untuk setiap tingkat harga dibawah minimum AVC, jumlah yang ditawarkan adalah nihil. Pada tingkat harga sama dengan AVC, jumlah yang ditawarkan adalah Q2. Untuk setiap tingkat harga diatas AVC, jumlah yang ditawarkan digambarkan oleh kurva MC. Misalnya, pada tingkat harga sama dengan ATC, jumlah yang ditawarkan adalah Q3. Jadi kurva penawaran adalah kurva marginal cost yang diatas AVC.

 

Perhatikanlah kurva penawaran yaitu kurva marginal cost yang dicetak tebal. Selisih antara kurva ATC dan kurva AVC yang digambarkan dengan celah diantara kedua kurva tersebut, menggambarkan AFC (average fixed cost). Sekarang perhatikanlah kurva penawaran yang berada diantara kurva ATC dan AVC. Untuk setiap tingkat harga diatas AVC namun dibawah ATC (yaitu antara output Q2 dan Q3), berarti perusahaan mengalami kerugian setiap output yang dijual karena harga lebih kecil dibanding ATC.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7.6. Marginal Cost dan Kurva Supply

 

 

 

Meskipun harga lebih kecil dibanding ATC, bagi perusahaan lebih baik untuk tetap menjual outputnya karena pada tingkat harga tersebut perusahaan telah mampu membayar AVC nya. Kerugian yang masih terjadi adalah sebesar AFC nya. Ingatlah bahwa FC adalah biaya tetap yang harus dibayar perusahaan apakah perusahaan berproduksi atau tidak berproduksi. Nah, karena AFC tetap akan muncul berapapun jumlah output yang diproduksi, maka lebih baik bagi perusahaan untuk memproduksi output sejumlah Q2 sampai dengan Q3. Dengan demikian, perusahaan berharap memantapkan keberadaan produknya di pasar. Bila kemudian tingkat harga melampaui ATC, perusahaan ini akan membukukan laba.

 

Bagaimana bila perusahaan memilih untuk tidak berproduksi bila harga dibawah ATC? Kerugian perusahaan akan bertambah besar:

Perusahaan harus tetap menanggung AFC

Perusahaan tidak mempunyai kegiatan operasi yang berarti para pelaksana perusahaan tidak mempunyai pendapatan. Jadi sebagai pemilik perusahaan, ia memang tidak bagi hasil dari modal penyertaannya (atau dividen), namun sebagai pelaksana perusahaan ia tetap mendapat pendapatan berupa upah kerja bila tetap berproduksi. Sebaliknya jika perusahaan tidak berproduksi, maka ia akan kehilangan bagi hasil sebagai pemilik dan juga kehilangan upah kerja sebagai pelaksana.

 

 

 

D. Produser Surplus

 

Selisih antara total revenue dengan total variable cost disebut produser surplus atau quasi rent. Produser surplus dapat dihitung dengan dua cara.

 

 

Cara Pertama

Secara matematis, total revenue adalah hasil kali P*Q*. Sedangkan total variable cost adalah hasil kali AVC dengan Q*. Selisih antara keduanya digambarkan dengan segi empat yang diarsir yaitu hasil kali antara (P*-AVC) dengan Q*. Inilah yang disebut produser surplus.

Secara matematis ditulis:

 

Produser surplus = TR - TVC

= (P x Q) - (AVC x Q)

= (P - AVC) x Q

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cara Kedua

Cara lain untuk menghitung produser surplus sebagai berikut. Perhatikanlah bahwa variabel cost untuk memproduksi 1 unit output sama dengan marginal cost pada jumlah output 1 unit. Variabel cost untuk memproduksi 2 unit output sama dengan marginal cost pada jumlah output 1 unit ditambah marginal cost pada jumlah 2 unit, dan seterusnya. Sehingga VC(Q) = MC (1) + MC (2) + .... + MC (Q).

 

 

 

Q

TVC

MC

S MC

0

0

0

0

1

100

100

100

2

200

100

200

3

300

100

300

4

400

100

400

5

500

100

500

6

600

100

600

7

700

100

700

8

800

100

800

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7.8. Produsen Surplus

Perhitungan Producer Surplus Cara Kedua

 

 

 

 

Secara grafis total variable cost ini digambarkan dengan daerah yang tidak diarsir yang berada dibawah kurva MC. Sedangkan total revenue adalah hasil kali P dengan Q. Sehingga produser surplus digambarkan dengan daerah yang diarsir yaitu yang dibawah P dan diatas kurva MC.

 

Cara pertama lebih mudah untuk menghitung total produser surplus. Sedangkan cara kedua lebih berguna untuk menghitung perubahan dari produser surplus yang telah ada (existing produser surplus). Berikutnya kita akan melihat pengaruh pajak penjualan dan pengaruh zakat perniagaan terhadap produser surplus.

 

 

 

E. Pengaruh Pajak Penjualan

 

Pengenaan pajak penjualan atau pajak pertambahan nilai sebesar, misalnya Rp 100 per liter bensin premium, atau misalnya 10% dari harga per unit, akan meningkatkan average total cost. Peningkatan ATC secara langsung juga berarti peningkatan MC.

 

Bila harga tetap pada tingkat harga semula, maka peningkatan biaya ini berarti penurunan profit. Karena total revenue tetap sedangkan total cost meningkat. Sebelum adanya pajak penjualan, tingkat profit sebesar profit1. Dengan adanya pengenaan pajak penjualan, tingkat profit menurun menjadi profit 2.

 

Secara grafis keadaan tanpa adanya pajak penjualan digambarkan pada diagram yang atas oleh kurva average total cost ATC1 dan kurva marginal cost MC1. Harga berada pada tingkat P*. Sedangkan diagram bawah menggambarkan fungsi profit yang diturunkan dari diagram atas.

 

Ketika kurva ATC1 memotong garis harga dari atas, jumlah penawaran adalah Q1’. Pada titik Q1’, tingkat profit nihil karena pada titik ini AR=ATC yang berarti TR=TC. Tingkat profit nihil ini digambarkan oleh kurva profit1 pada diagram bawah yaitu titik Q1’ pada garis horizontal sumbu X. Begitu pula ketika kurva ATC1 memotong garis harga dari bawah, jumlah penawaran adalah Q1". Pada titik Q1" ini, tingkat profit juga nihil. Itu sebabnya kurva profit1 pada tingkat output Q1" juga berada pada garis horizontal sumbu X.

 

Ketika kurva MC1 = P*, profit mencapai tingkat maksimal. Ini terjadi pada tingkat produksi Q1*. Tingkat profit maksimal ini digambarkan oleh kurva profit1 pada diagram bawah yaitu titik Q1*. Total profit digambarkan oleh segiempat profit1 yang diarsir pada diagram atas.

 

Adanya pengenaan pajak penjualan meningkatkan ATC dari ATC menjadi ATC2, dan MC1 menjadi MC2. Harga tetap berada pada tingkat P*.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketika kurva ATC2 memotong garis harga dari atas, jumlah penawaran adalah Q2’. Pada titik Q2’, tingkat profit nihil karena pada titik ini AR=ATC yang berarti TR = TC. Tingkat profit nihil ini digambarkan oleh kurva profit2 pada diagram bawah yaitu titik Q2’ pada garis horizontal sumbu X. Begitu pula ketika kurva ATC2 memotong garis harga dari bawah, jumlah penawaran adalah Q2". Pada titik Q2" ini, tingkat profit juga nihil. Itu sebabnya kurva profit2 pada tingkat output Q2" juga berada pada garis horizontal sumbu X.

 

Ketika kurva MC2 = P*, profit mencapai tingkat maksimal. Ini terjadi pada tingkat produksi Q2*. Tingkat profit maksimal ini digambarkan oleh kurva profit 2 pada diagram bawah yaitu titik Q2*. Total profit digambarkan oleh segi empat profit2 yang diarsir. Jelaslah profit2 lebih kecil dibanding profit1. Secara paralel kita dapat pula mengatakan bahwa producer surplus dengan adanya pajak penjualan lebih kecil dibandingkan producer surplus tanpa adanya pajak penjualan.

 

Jadi pengenaan pajak penjualan membawa pengaruh:

Turunnya total profit dari profit1 menjadi profit2.

Turunnya tingkat profit maksimal yang digambarkan oleh puncak gunung kurva profit pada diagram bawah. Secara grafis, puncak kurva profit1 lebih tinggi daripada puncak kurva profit2.

Mengecilnya rentang skala produksi dari Q1’Q1" menjadi Q2’Q2". Dimana Q1’ < Q2’ dan Q1’Q2".

 

 

F. Pengaruh Zakat Peniagaan

 

Pengenaan zakat perniagaan memberikan pengaruh yang berbeda dibandingkan dengan pengenaan pajak penjualan. Dalam konsep Islam, zakat perniagaan dikenakan bila telah terpeunihinya dua hal: nisab (batas minimal harta yang menjadi objek zakat yaitu setara 96 gram emas) dan haul (batas minimal waktu harta tersebut dimiliki yaitu satu tahun). Bila nisab dan haul telah terpenuhi, maka wajiblah dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.

 

Objek zakat perniagaan adalah barang yang diperjual-belikan. Dalam ilmu ekonomi, ini berarti yang menjadi objek zakat perniagaan adalah revenue minus cost. Ulama berbeda pendapat mengenai komponen biaya. Sebagian berpendapat bahwa biaya tetap boleh diperhitungkan, sedang sebagian lainnya berpendapat bahwa hanya biaya variabel saja yang boleh diperhitungkan. Dalam ilmu ekonomi pendapat pertama berarti yang menjadi objek zakat adalah economic rent, sedangkan pendapat kedua berarti yang yang menjadi objek zakat adalah quasi rent atau producer surplus.

 

Pendapat manapun yang digunakan atas objek zakat ini sama sekali tidak memberikan pengaruh terhadap ATC, yang berarti pula tidak ada pengaruh terhadap profit yang dihasilkan. Pengenaan zakat perniagaan juga sama sekali tidak memberikan pengaruh terhadap MC, yang berarti pula tidak memberikan pengarih terhadap kurva penawaran.

 

Upaya memaksimalkan profit berarti pula memaksimalkan producer surplus, dan sekaligus berarti memaksimalkan zakat yang harus dibayar. Jadi dengan adanya pengenaan zakat perniagaan perilaku memaksimalkan profit berjalan sejalan dengan perilaku memaksimalkan zakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7.10. Pengaruh Zakat Perniagaan Terhadap Profit

Dari gambar ini jelas bahwa zakat perniagaan hanyalah sebagian keciil dari profit.

 

 

Pada titik Q1’, tingkat profit nihil karena pada titik ini AR = ATC yang berarti TR = TC. Tingkat profit nihil ini digambarkan oleh kurva profit 1 pada diagram bawah yaitu titik Q1’ pada garis horizontal sumbu X. Begitu pula ketika kurva ATC1 memotong garis harga dari bawah, jumlah penawaran adalah Q1". Pada titik Q1" ini, tingkat profit juga nihil. Itu sebabnya kurva profit1 pada tingkat output Q1" juga berada pada garis horizontal sumbu X.

 

Ketika kurva MC1 = P*, profit mencapai tingkat maksimal. Ini terjadi pada tingkat produksi Q1*. Tingkat profit maksimal ini digambarkan oleh kurva profit1 pada diagram bawah yaitu titik Q1*. Pada titik Q1* pula tingkat zakat maksimal tercapai.. Keadaan ini digambarkan dengan puncak kurva profit dan puncak kurva zakat yang terjadi pada titik Q1* (diagram bawah).

 

 

G. Internalisasi Biaya Eksternal

 

Perilaku memaksimalkan profit seringkali mendorong produsen untuk berlaku aniaya. Salah satu cara untuk meningkatkan profitnya adalah dengan memindahkan biaya-biaya yang seharusnya ditanggung produsen kepada pihak lain. Biaya yang paling mudah untuk dialihkan kepada pihak lain adalah biaya yang tidak mempunyai kaitan langsung dengan proses produksi. Misalnya biaya pembuatan penampungan limbah pabrik yang seharusnya ditanggung produsen karena merupakan konskuensi dari proses produksinya, dialihkan kepada masyarakat dengan cara membuang begitu saja limbah pabrik ke tempat-tempat umum. Tindakan ini jelas anaiaya, karena produsen jelas-jelas mendapat keuntungan dari proses produksi, namun tidak mau bertanggung jawab atas akibatnya yaitu menanggung biaya penanganan limbah. Dalam ilmu ekonomi, tindakan produsen ini disebut negative externalities.

 

Pada pembahasan tentang Garis Besar Ekonomi Islam kita telah membahas bahwa konsep adil dalam ekonomi Islam diterjemahkan menjadi empat hal, yaitu dilarang melakukan mafsadah, dilarang melakukan transaksi gharar, dilarang melakukan transaksi maisir, dilarang melakukan transaksi riba. Salah satu bentuk mafsadah adalah melakukan kerusakan yang dalam istilah ekonominya disebut negative externalities. Dalam konteks utility function, mafsadah juga dapat diartikan bahwa Islam hanya membolehkan utility function dibangun dalam pilihan "good" X dan "good" Y ("hal baik" X dan "hal baik" Y). Pada prinsipnya utility function yang dibangun dalam pilihan "good X dan "bad" Y ("hal baik" X dan "hal buruk" Y), atau dalam pilihan "bad" X dan "good Y", tidak dibolehkan karena tergolong tindakan mafsadah. Dalam pembahasan tentang Teori Permintaan Islami kita pun telah membahas tentang corner solution bila kita dihadapkan pada pilihan haram X dan halal Y. Corner solution ini menunjukkan bahwa kalaupun kita dihadapkan pada pilihan "good" dan "bad", kita akan memilih seluruhnya "good", dan meninggalkan "bad" sama sekali. Solusi lain selain meninggalkan "bad" sama sekali (misalnya pada saat darurat), selalu menghasilkan solusi yang tidak optimal.

 

Secara grafis, upaya produsen melarikan diri dari tanggung jawab ini digambarkan dengan turunnya ATC dari ATC1 menjadi ATC2, dan marginal cost turun dari MC1 menjadi MC2. Dengan tingkat MC yang lebih rendah (MC2 < MC1) producsen akan menawarkan lebih banyak barang, sedangkan dengan tingkat ATC yang lebih rendah (ATC2 < ATC1) produsen akan menerima average economic rent yang lebih besar pula. Dengan demikian profit akan naik dari profit1 menjadi profit2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7.11. Internalisasi Biaya Eksternal

 

 

 

 

Dalam pandangan Islam, Marginal External Cost merupakan tanggung jawab dari produsen, karena tanpa ada proses produksi tentu tidak akan muncul external cost. Oleh karena itu MEC harus diinternalisasi kedalam komponen biaya produsen. Keadaan ini digambarkan oleh diagram yang sebelah bawah. MC1 adalah MC produsen, dan ATC1 adalah ATC produsen. Produsen tidak mempunyai pilihan untuk berproduksi pada tingkat MC2 dan ATC2 meskipun produsen bersedia memberikan kompensasi tertentu. Dalam ekonomi konvensional, negative externalities masih dapat ditolerir dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Misalnya dengan penentuan emissions standard dan emissions fees. Emissions standard adalah ketentuan hukum tentang batas maksimal tingkat polusi yang masih dibolehkan. Jika produsen melampaui batas tersebut, maka ia akan dikenakan sanksi berupa denda atau bahkan dianggap melakukan tindakan kriminal. Emissions fees adalah kompensasi yang harus dibayar untuk setiap unit polusi yang dilakukan produsen.

 

 

 

H. Fees, Standard, or Recycling?

 

Dalam sejarah perekonomian Amerika Serikat, emissions standards merupakan pilihan dalam menontrol negative externalities. Sedangkan di Jerman, emissions fees yang merupakan pilihan. Secara teroritis, sebenarnya kedua instrumen ini dapat memberikan hasil yang sama. Misalnya suatu perusahaan multi national company yang mempunyai dua pabrik masing-masing di Amerika Serikat dan Jerman. Di Amerika Serikat ditentukan bahwa emissions standard adalah 12 unit. Diatas standard ini produsen akan dikenakan denda yang besar atau bahkan dikategorikan melakukan tindakan kriminal. Untuk menjaga agar proses produksi yang dilakukannya tidak melebihi 12 unit, produsen harus mengeluarkan biaya $ 36 ribu. Sedangkan di Jerman ditentukan emissions fess untuk setiap unit polusi adalah setara $ 3 ribu. Maka ia pun akan berproduksi pada tingkat polusi 12 unit dan membayar $ 36 ribu.

 

Secara grafis ini digambarkan pada diagram atas. MC adalah marginal cost, MCA adalah marginal cost of abating emissions. Efficient level of emissions trejadi pada titik E*, dan hal ini dapat dicapai dengan instrumen standards atau fees. Dengan fees sebesar F* per unit nya, mendorong produsenuntuk menekan dan menjaga tingkat polusinya pada tingkat dimana besarnya fees sama dengan marginal benefitnya. Dalam hal ini marginal benefit diukur dengan marginal cost of abating emissions. Perpotongan kurva MCA dengan garis horizontal pada titik F* menunjukkan tingkat efficient level of emissions yaitu pada tingkat E*. Tingkat efficient level of emissions ini dapat pula dicapai dengan menentukan standard polusi pada tingkat E*.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam prakteknya, standards dan fees mempunyai implikasi yang berbeda. Katakanlah di Jerman yang menggunakan instrumen fees. Pemerintah dapat menentukan single rate fee yang berlaku untuk semua produsen, misalnya pada tingkat F*. Padahal setiap produsen mempunyai struktur biaya yang berbeda. Katakanlah produsen pertama mempunyai MCA1 dan produsen kedua mempunyai MCA2, dimana MCA1 > MCA2. Secara grafis kurva MCA2 terletak di sebelah kiri kurva MCA1. Ini berarti perpotongan kurva MCA2 dengan garis horizontal pada titik F*, akan berada pada titik di sebelah kiri E*. Atau dengan kata lain, prodesen yang mempunyai MCA yang lebih rendah akan berproduksi dengan tingkat polusi yang lebih rendah. Semakin kecil tambahan biaya untuk mengurangi polusi, maka makin besar pengurangan tingkat polusi (makin besar benefit bagi masyarakat), sehingga semakin rendah tingkat polusi.

 

Dalam konsep Islam, mencegah mafsadah lebih diutamakan daripada memperbaiki dampak buruk mafsadah meskipun dampak buruk tersebut timbul sebagai ekses dari suatu produksi yang bermanfaat. Itu sebabnya penggunaan mekanisme recycling lebih diutamakan daripada instrumen fees dan standards. Secara grafis recycling ini digambarkan pada diagram sebelah bawah. MC adalah Islamic marginal cost, EC adalah external cost, RC adalah refund cost per unit, dan MCR adalah marginal cost of recycling. Efficient amount of recycling dari limbah produksi terjadi pada saat marginal cost of scrap disposal (MC) sama dengan marginal cost of recycling (MCR). Bila potensi terjadinya negative externalities terdapat pada masyarakat, dalam sistem ini masyarakat diberikan insentif untuk tidak melakukan negative externalities, misalnya tidak membuang kemasan bekas sembarangan sehingga menimbulkan mafsadah. Bila potensi negative externalities terdapat di lingkungan produsen, recycling dalam artian mendaur ulang untuk memproduksi output yang sama tidak selamanya dapat dilakukan. Namun demikian recycling dalam artian men daur-ulang limbah untuk dimanfaatkan memproduksi output lain tetap dapat dilakukan. Misalnya instalasi pengolahan air bersih (instalasi penjernihan air PAM) yang menghasilkan limbah berupa lumpur. Limbah berupa lumpur ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.